Page 495 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 495

Keping 81


             Gio.  Tak jauh dari tempatnya berbaring, tampak Gio

           berusaha bangkit. Sebelum Zarah berhasil duduk tegak, Gio
           sudah duluan menghampiri.
             Mengabaikan segala sakit di tubuhnya sendiri, Gio bergerak
           meraih Zarah. Merengkuhnya.

             “Aku lihat Ayah,” bisik Zarah seraya memeluk leher Gio
           erat. “Dia keluar dari portal. Ayah pulang.”
             Hati Gio ditarik ke dua kutub sekaligus. Luapan
           kebahagiaan karena bisa bertemu lagi dengan Zarah diimbangi
           kegundahan atas penemuannya di Bukit Jambul.
             Terdengar derit lantai kayu. Gio dan Zarah sama-sama

           menoleh. Di seberang mereka, terpisahkan sekumpulan batu
           besar, seorang laki-laki kurus tak dikenal tengah berjuang
           untuk duduk. Kaus merah bernoda tanah membungkus
           kulitnya yang putih pucat. Kepala pria itu licin tak berambut,

           menampakkan sederet tonjolan aneh di batoknya.
             “Alfa…?” Pria itu memanggil seseorang.
             “Hadir.” Terdengar lagi derit lantai kayu. Satu sosok lain
           bangkit  duduk.  Pria  bertubuh  tegap  dengan  bahu  bidang,
           terbungkus kaus dekil. Rambutnya kusut masai. Tatapannya

           langsung menemukan Gio dan Zarah. Hening sesaat sebelum
           akhirnya ia memperkenalkan diri. “Alfa. Gelombang. Peretas
           Mimpi.”
             “Bodhi. Akar. Peretas Kisi.”

             “Gio. Kabut. Peretas Kunci.”



           480
   490   491   492   493   494   495   496   497   498   499   500