Page 563 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 563

Keping 86


           ke dalam akibat berjam-jam menghadapi papan tik dan
           komputer, muka kelabu  karena kebanyakan begadang,  dan

           permainan online adalah satu-satunya jenis petualangan yang
           mereka gandrungi. Zarah bagai antitesis dari itu semua.
           Apalagi, dengan muka masih bercemong debu, Zarah semakin
           membuat Elektra segan.
             Elektra meraih tasnya yang ia letakkan di bawah kursi.

           Mengeluarkan sebuah kemasan berisi tisu basah.
             “Nih,” Elektra menawarkan selembar, “pakai saja.”
             Zarah menoleh, terlihat bingung dengan penawaran
           Elektra yang tiba-tiba. Senyum tipis menyembul ketika ia
           menyadari alasan mengapa tisu itu ditawarkan.  “Makasih,”
           kata Zarah, lalu menyeka wajahnya yang masih ditumpangi
           debu Bukit Jambul.
             “Kalau kamu mau saya tukar tempat duduk, nggak apa-

           apa.”
             “Maksudnya?”
             “Saya  bisa duduk  sama Mpret, nggak masalah.” Elektra
           menunjuk baris bangku yang ditempati Toni dan Gio.
             Zarah tersenyum lagi, menyadari bahwa ternyata ia dimata-

           matai teman sebangkunya.
             “Nggak usah, di sini saja,” ujar Zarah, “sori, dari tadi aku
           nggak ngajak ngobrol.” Ia menyodorkan tangan.  “Kita juga
           belum sempat kenalan. Zarah Amala.”
             “Elektra Wijaya. Biasa dipanggil Etra.” Elektra menyambut
           jabat tangan itu. Rasa segannya mencair. Ia menyukai senyuman



           548
   558   559   560   561   562   563   564   565   566   567   568