Page 625 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 625

Keping 91


             “Kamu tahu dari mana itu bukitnya? Punya X-Ray juga?”
           tanya Toni.

             Gio mengedarkan pandangan. “Kalian nggak lihat, apa?”
             Toni ikut memandang berkeliling, dan akhirnya paham
           apa yang dimaksud Gio. Gersangnya vegetasi di Dolok
           Simaung-Maung menampakkan bentuknya yang beda
           dari bukit-bukit tetangga. Bukan karena yang paling besar.

           Kesempurnaan simetrinyalah yang membuatnya mencolok di
           lanskap itu. Dolok Simaung-Maung berdiri bagai piramida
           raksasa berlapis karpet rumput. Seperti ada tangan besar yang
           memahatnya dari tanah.
             Bodhi mengerjap menatap bukit.  “Ada Sarvara di sana.
           Siap-siap saja.”
             Elektra membeliakkan mata sipitnya. “Buat apa kita masih
           terus ke atas, kalau gitu? Bunuh diri bareng?”

             “Karena kita memang harus terus coba sampai modar!”
           tandas Toni.
             “Berapa banyak, Bodhi?” tanya Zarah.
             “Tiga.”
             “Tiga? Mana satu lagi?”

             Pertanyaan Zarah seperti lembing tajam yang menghunjam
           Bodhi  dua  kali  di  dada.  Bagaimana kalau ternyata Ishtar
           mengatakan yang sebenarnya? Sarvara selalu selangkah di depan
           mereka. Sekuens mereka selama ini dibocorkan dari dalam. Liong,
           Kell, Kas, ayah Zarah, gugus Bintang Jatuh, semua adalah korban
           sabotase. Bintang Jatuh menyimpang dari rencana, tapi dia bukan



           610
   620   621   622   623   624   625   626   627   628   629   630