Page 621 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 621

Keping 91


             “Lupakan tas kita. Buang-buang waktu. Kita harus jalan
           secepatnya ke portal.” Bodhi berkata sambil memejamkan

           mata.  Memindai  tebaran  kisi  di  hadapannya  dan  mencari
           keberadaan simpul merah terdekat. “Aku bisa lihat mereka.
           Dua, nggak jauh dari kita.”
             “Berarti, kurang satu,” kata Elektra.
             Bodhi menelan ludahnya yang getir. Ia bisa menduga siapa

           satu Peretas yang terpisah. “Kita cari dulu yang dua,” tegasnya.






           Ketiganya berjalan setengah berlari, mengabaikan sakit, haus,
           dan alam yang semakin tidak bersahabat.
             “Etra, sumpah, kamu harus lebih cepat,” kata Toni yang lagi-
           lagi berhenti sejenak menunggui Elektra. Bodhi memimpin di

           depan.
             Napas Elektra sudah mirip dengusan banteng akibat
           tanjakan yang seolah tak ada habisnya itu. Kali ini,  Toni
           membuatnya menjadi banteng mengamuk. Kalau saja tidak
           harus menghemat tenaga, ingin rasanya ia menyeruduk Toni

           dan berteriak, Nanjak, tauk! Kamu enak pakai sepatu bau jempol!
           Saya pakai daster sama terompah! Mau ngebut gimana?
             “Mereka sudah dekat!” seru Bodhi dari depan.
             “Mana… mana? Nggak kelihatan….” Elektra menyusul
           dengan terengah-engah.
             “Kayaknya di balik bukit ini.”



           606
   616   617   618   619   620   621   622   623   624   625   626