Page 65 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 65

Keping 48


           Kemampuannya tidak membawa ia ke mana-mana selain
           penderitaan dan beban pikiran.

             “Bodhi. Sepanjang hidup saya, bertemu dengan satu
           orang seperti Elektra sudah merupakan anugerah besar.
           Bertemu dengan dua orang? Ini mukjizat,” kata Sati. Suaranya
           bergetar.  “Kalau kamu berkenan, saya ingin sekali menjadi
           pembimbingmu.”

             Bodhi menatap Sati, seutas senyum terbit malu-malu di
           wajahnya. “Buat saya, semua orang bisa jadi guru, Bu,” sahutnya,
           “tapi, tujuan utama saya ke sini cuma untuk melihat Asko lagi.
           Dengan bantuan Elektra. Kami ingin melakukannya dengan
           pengawasan Ibu. Elektra bilang, dia sering nggak stabil. Dan,
           begitu dia nggak stabil….”
             “Dia bisa membahayakan kamu.” Sati tampak berpikir.
           “Oke. Akan saya bantu. Tapi, saya perlu tahu dulu. Kenapa

           Asko ini begitu penting buatmu? Apa artinya tempat itu?”
             Bodhi meraih ranselnya, mengeluarkan selipan kertas dari
           agendanya, dan menyerahkannya kepada Sati. “Seperti yang
           Ibu bilang tadi. Ini nggak mungkin kebetulan.”
             Sati membaca surat pendek yang tercetak di kertas folio

           itu.
             “Selain surat ini, modal saya cuma intuisi, Bu. Saya nggak
           punya pegangan apa-apa lagi. Rasanya saya harus cari tempat
           yang namanya Asko ini sampai ketemu.”
             “Mencari tempatnya? Atau orang yang menulis surat ini?
           Sudah kamu selidiki juga?”



           50
   60   61   62   63   64   65   66   67   68   69   70