Page 63 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 63

Keping 48


             “Siapa?” Sati menoleh ke Bodhi.
             Elektra mengerutkan kening. Informasi yang sama muncul

           begitu saja seperti ingatan dorman yang tiba-tiba terbangun.
           “Ya. Namanya Bintang Jatuh.”
             “Menarik. Dari mana kalian tahu tempat itu namanya
           Asko?” tanya Sati lagi.
             Bodhi dan Elektra saling berpandangan. Hampir

           berbarengan, keduanya mengangkat bahu.
             “Kita, eh, saya langsung tahu. Nggak tahu gimana caranya,”
           jawab Bodhi.
             “Kalian sempat bicara apa dengan yang namanya Bintang
           Jatuh itu?”
             “Kami nggak sempat bicara apa-apa. Habis itu kayak
           ada gempa, semuanya goyang kayak TV rusak. Terus, kami
           terlempar ke tempat lain. Semuanya batu abu-abu. Kotak-

           kotak. Rasanya seperti terbalik-balik. Atas jadi bawah, bawah
           jadi atas. Aneh pokoknya,” jawab Elektra. “Nah, yang bikin
           kami bingung, kami rasanya menjalani semua itu bareng-
           bareng, Bu. Berhubung saya beberapa kali bisa baca pikiran
           orang, saya jadi nggak yakin. Jangan-jangan saya cuma baca

           memori Bodhi.”
             “Baca pikiran? Sejak kapan?”
             “Mungkin lebih pas disebut mengakses memori. Nggak
           tahu juga, sih. Saya bisa lihat apa yang orang pernah alami.
           Perasaan mereka. Kejadian-kejadian. Kayak nonton video
           dalam otak.”



           48
   58   59   60   61   62   63   64   65   66   67   68