Page 679 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 679

Keping 97


           perbukitan bagai siulan para dewa. Seperti mata raksasa yang
           membuka, cahaya menyilaukan menjulang tinggi di tengah-

           tengah mereka. Isapan kuat pun merobohkan kelima Peretas
           sekaligus. Sekejap kemudian, mereka hilang.
             Kor  jangkrik  dan  sahut-sahutan  serangga  malam  adalah
           yang tersisa di puncak bukit. Tak ada siapa pun yang terlihat.
           Matahari sepenuhnya hilang ditelan malam, memberikan

           tempatnya bagi hamparan bintang dan sebundar bulan yang
           menggantung terang tanpa penghalang.






           Ini adalah kali ketiga Zarah terisap dan terlempar ke luar
           portal. Tetap saja ia tak mampu menggambarkan apa yang
           terjadi. Seluruh kesadarannya bagai dimampatkan ke satu

           titik, dan detik berikutnya ia dikembalikan ke bentuk dan
           kondisi asal. Sakit bukan deskripsi yang tepat, lebih mirip
           ketidaknyamanan dan disorientasi yang luar biasa.
             Di sekitarnya, terdengar suara-suara mengerang dan
           muntah-muntah angin. Zarah berusaha bangkit meski

           masih terhuyung. Ia melihat sekitar, tanah lapang. Sekilas
           mirip dengan Dolok Simaung-Maung. Ketika melihat siluet
           rimbunan pohon di bawah sana, tersadarlah Zarah bahwa
           mereka berada di Bukit Jambul.
             “Di mana kita?” kata Toni yang sedang berusaha bangkit
           duduk.



           664
   674   675   676   677   678   679   680   681   682   683   684