Page 683 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 683

Keping 97


              Hara langsung melompat dan merangkul kakaknya.
           “Kakak ke mana saja? Aku semalaman nggak bisa tidur, Kak.

           Kepikiran.”
             Zarah tersenyum. “Panjang ceritanya.”
             “Kak Gio baik-baik?”
             “Dia titip salam buat kamu.”
             Senyum Hara ikut mengembang. “Kakak nginap di sini?”

             Zarah mengangguk. Ia lalu menggenggam tangan adiknya.
           “Kamu tahu orang yang paling kukagumi di dunia ini?”
             “Ayah,” jawab Hara tanpa ragu.
             Zarah tertawa pelan. “Bukan. Dulu, kupikir juga begitu.
           Ternyata ada yang orang lebih Kakak kagumi lagi.”
             Hara menggeleng, tak punya ide lain untuk menjawab
           pertanyaan Zarah.
             Bertahun-tahun,    dalam    pengembaraannya,     Zarah

           cukup memikirkan dirinya sendiri. Pundak Hara-lah yang
           memikul segenap keluarga yang Zarah tinggalkan demi
           pemberontakannya. Hara melakukannya sejak kecil dan akan
           terus melakukannya hingga entah kapan.  “Kamu,” tandas
           Zarah.

             Hara gantian tertawa. “Aku bisa apa, Kak. Aku nggak kayak
           Kak Zarah. Pintar, pemberani, sudah ke mana-mana. Aku
           cuma jaga rumah, jaga Ibu, jaga Umi.”
             Sekonyong-konyong,  Zarah  memeluk  adiknya  kencang.
           “Kakak nggak bisa melakukan itu semua. Kamu yang paling
           kuat, Hara. Kakak nggak ada apa-apanya dibanding kamu.”



           668
   678   679   680   681   682   683   684   685   686   687   688