Page 682 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 682

IntelIgensI embun PagI

              Zarah  mendekat  dan  mendekap  Gio.  “Terima  kasih,”
           bisiknya. Dua potong kata yang terlalu sederhana untuk

           mewakili apa yang ia rasakan. Pada saat seperti ini, ia berharap
           punya kemampuan seperti  Toni yang bisa menyampaikan
           segalanya lewat sentuhan tanpa keterbatasan bahasa.
           Sayangnya, kata-kata dan segala keterbatasannya adalah satu-
           satunya yang ia miliki.

              Tidak,  batinnya.  Zarah merenggangkan  pelukannya,
           merengkuh wajah Gio, mencium bibirnya. Sebuah ciuman yang
           berlangsung dalam dan tanpa keraguan. Setiap gelombang dan
           luapan perasaan sebaik mungkin ia hantarkan melalui denyut
           demi denyut ciuman. Berharap tak ada satu pun yang luput
           terbaca oleh Gio.
              Kedua bibir mereka perlahan terpisah. Sejenak. Hanya
           untuk Gio berbisik, “Aku tahu.”







           Semilir wangi sampo dan sabun perlahan-lahan menyisip ke
           indra penciumannya, Hara merasa seseorang ada di dekatnya.

           Matanya membuka. Kamarnya tak lagi gelap. Lampu dari
           meja belajar menyala.
              “Kak Zarah?” panggilnya pelan.
              “Hara.” Zarah mengecup kening adiknya. Rambutnya masih
           basah. Dibutuhkan banjiran detergen untuk melunturkan
           debu dan lumpur yang menderanya dua hari berturut-turut.



                                                                 667
   677   678   679   680   681   682   683   684   685   686   687