Page 81 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 81

Keping 50


           membesar, seiring dengan benteng batu di sekelilingnya yang
           bertumbuh, mengepungnya dari segala arah.

             Dada Elektra menyesak. Di tempat itu, ia bagaikan sebutir
           debu yang tak berarti. Sekejap lagi terinjak lenyap. Dengan
           segala kekuatan yang tersisa, Elektra mendorongkan telapak
           tangannya ke arah makhluk itu. Mengalirkan listrik dari
           tubuhnya.







           Bodhi mengenali sekelilingnya. Inilah tempat kedua yang
           ia  masuki setelah  Asko tadi. Benteng  batu,  labirin  berliku,
           menjulang tanpa ujung.
             Elektra. Kali ini Bodhi tidak merasakan keberadaannya.
             Rasa takut menjalari tubuhnya bagai bisa. Tempat ini tidak

           bersahabat. Ia mungkin tidak menyadarinya sebelum ini karena
           kunjungannya terlalu singkat. Namun, kali ini rasa itu tidak
           terbantahkan. Alam ini punya satu niat. Mengenyahkannya.
             Sesosok makhluk hitam muncul mengadang. Kedua
           mata kuningnya yang menyala menatap Bodhi seolah ingin

           menelannya bulat-bulat. Alam itu ternyata punya wajah.
             Kamukah kematian? Aku sudah lama mencarimu. Rasa takut
           yang mengunci Bodhi berubah menjadi kepasrahan.  Habisi
           aku.
             Di luar dugaannya, Bodhi merasakan penolakan kuat.
           Kehadirannya sama sekali tidak diinginkan.



           66
   76   77   78   79   80   81   82   83   84   85   86