Page 85 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 85
Keping 50
“Nggak banyak, Bu. Nggak pernah tertarik untuk tahu.”
Bodhi teringat ratusan ribu mantra yang dilafalkannya semasa
kecil untuk mengusir kemampuan yang baginya adalah kutukan.
Orang-orang menyebut dirinya cenayang, paranormal, bahkan
sakti. Bagi Bodhi, ia tak lebih dari manusia terkutuk.
“Kamu menghindar? Kenapa?”
Bodhi mulai tidak nyaman. Ia merasa sedang disidang.
“Takut, mungkin?” gumamnya.
“Ada yang membimbing kamu?”
“Saya dibesarkan penjaga wihara sampai umur delapan
belas tahun. Sesudah itu saya pergi.”
“Kamu kabur?”
“Saya pamit baik-baik. Saya memang sudah tidak tahan.”
“Dia tidak menahan kamu?”
“Dia bilang sudah seharusnya saya pergi.” Bodhi menelan
ludah. Memori itu tidak pernah mudah diungkap meski sudah
berkali-kali ia ceritakan. “Dia sudah meninggal sekarang. Saya
nggak pernah kembali lagi ke wihara.”
“Sejak itu kamu sendiri?”
“Teman saya banyak.” Namun, Bodhi tahu, dan ia curiga
Sati pun tahu, dirinya membangun tameng dari dunia
sekitarnya. Di balik tameng itu, ia selalu sendiri.
“Elektra seorang electro-empath. Itu kesimpulan saya
sementara. Tanpa listrik, dia sama seperti orang kebanyakan.
Tapi, dengan medium listrik, dia bisa menjadi seorang
empath. Bahkan, hyper-empath. Dia bukan cuma membaca
70

