Page 86 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 86

IntelIgensI embun PagI

           dan merasakan, dia juga ikut menanggung apa pun yang kita
           simpan seakan-akan itu beban dia juga,” jelas Sati dengan berat

           hati. “Bagi kamu, mencari tempat bernama Asko adalah murni
           perjalanan. Bagi Elektra, dia harus pulang dari perjalanan itu
           dengan membawa ‘oleh-oleh’. Apa pun yang kamu simpan di
           dalam sana.” Sati menunjuk ke arah dada Bodhi. “Dan, kamu
           bukan manusia biasa. Kita berdua tahu itu.”

              Bodhi melirik Elektra yang mengerang halus dengan
           kelopak mata menggantung. Sesosok perempuan yang baru
           saja ia kenal dan sekarang ikut menanggung derita yang selama
           ini ia sembunyikan rapi-rapi dari dunia. Dunia yang tidak
           akan pernah mengerti dan lebih baik selamanya demikian.
           Bebannya bukan untuk dibagi. Bodhi sudah berdamai dengan
           hal itu sejak lama. Tidak seorang pun patut menderita seperti
           dirinya.

              “Saya bisa bantu apa, Bu?” tanya Bodhi, menahan dirinya
           untuk tidak bersujud, memohon ampun entah pada siapa.
              “Semakin sering kamu terkoneksi dengan Elektra, semakin
           rentan buat kondisinya. Elektra belum bisa mengendalikan
           mana yang harus ia serap.”

              “Saya janji nggak akan cari Asko atau apa pun lagi lewat
           dia. Saya bakal pergi,” kata Bodhi.  Pada akhirnya, aku akan
           selalu sendiri.
              “Bodhi.” Sati menumpangkan tangannya di atas tangan
           Bodhi yang mengepal. “Saya ingin bantu kamu. Saya tidak
           akan menyerah.”



                                                                  71
   81   82   83   84   85   86   87   88   89   90   91