Page 84 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 84

IntelIgensI embun PagI

              Elektra mengerang. Dunia sekelilingnya seperti berputar
           dan kesadarannya memudar. “Saya baringan lagi saja,” bisiknya.

              Bodhi terbangun sekaligus, terduduk dengan napas
           terengah.
              “Bodhi. Kamu lihat sesuatu?” Sati menghampiri Bodhi.
              “Benteng batu.” Bodhi berhenti sejenak, mengatur
           napasnya. “Benteng itu hidup. Saya dikepung. Ada makhluk

           hitam. Dia penunggu di sana. Dia marah sekali melihat saya.
           Saya dilempar keluar.”
              “Dilempar?”
              “Rasanya kayak… meledak. Maaf, Bu. Susah dijelaskan.”
           Bodhi terbata. Ia sudah cukup sering melihat hal-hal yang
           di luar nalar. Namun, yang barusan sama sekali berbeda.
           Begitu nyata. Begitu membekas. Ironisnya, menjadi semakin
           sulit untuk ia jabarkan. Bodhi menoleh, melihat Elektra yang

           tergolek lemah dengan mata setengah terbuka. “Etra kenapa,
           Bu?”
              “Saya nggak tahu pasti. Tapi, saya yakin ada hubungannya
           dengan koneksi kalian barusan.”
              Sati terdiam lama sambil meletakkan telapak tangannya di

           beberapa titik di tubuh Elektra; di kening, dekat jantung, dan
           pergelangan tangan. Ia terlihat sedang mendiagnosis. Beberapa
           kali napasnya mengulur panjang diselingi gumaman. Bodhi
           mengamatinya dan kecemasannya kian menguat.
              “Apa yang kamu tahu selama ini tentang kemampuanmu,
           Bodhi?”



                                                                  69
   79   80   81   82   83   84   85   86   87   88   89