Page 90 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 90

IntelIgensI embun PagI

              Kell  mengamati  Alfa  sejenak.  “Misimu  bukan  lagi
           memburu Ishtar. Kamu paham itu, kan? Nasib gugusmu jauh

           lebih penting.”
              Alfa merasa seperti pencuri tertangkap tangan, pipinya
           menghangat. “Bandung,” ulangnya tegas. “Kita bisa langsung
           sewa mobil.”
              “I don’t judge.” Kell tersenyum kecil.

              Tak sampai seperempat jam kemudian, sebuah mobil sedan
           berangkat mengantar mereka berdua keluar dari area bandara.
           Meluncur ke arah Kota Bandung.






           Pesawat telepon berwarna hijau telur asin itu masih
           menggunakan tombol putar. Mulus dan bersih seperti baru.

           Tidak pernah terbit keinginan Sati untuk menggantinya ke
           model yang lebih mutakhir. Telepon, dan juga pemutar kaset
           tuanya, hanyalah alat penunjang yang ia gunakan sekali-sekali.
           Sati mengecek sebaris nomor telepon dari buku alamat dan
           memutar setiap angka sambil mengeja pelan. Menunggu

           panggilannya tersambung dengan sabar.
              Terdengar suara laki-laki menyapa. “Sati. Aku sudah terima
           pesanmu. Sebegitu tidak percayanya kamu sampai harus
           menelepon?”
              Sati melihat jam dinding. “Aku cuma memastikan kamu
           sedang dalam perjalanan ke bandara.”



                                                                  75
   85   86   87   88   89   90   91   92   93   94   95