Page 94 - Supernova 6, Inteligensi Embun Pagi
P. 94
IntelIgensI embun PagI
Gio melangkah ke ruang tamu yang terbuka, yang sekaligus
menunjukkan ruang makan, ruang televisi, dan ruang kerja.
Suasana interior rumah Dimas kontras dengan kesan luarnya
yang klasik. Rumah itu mengesankan rumah lajang. Modern,
bersih, fungsional tanpa banyak pernik. Satu-satunya yang
menonjol adalah rak buku yang padat menjulang dari lantai
hingga langit-langit, memamerkan barisan tulang buku
berwarna-warni beraneka ukuran.
“Reuben!” Dimas memanggil ke arah dalam. “Gio sudah
datang.”
Seseorang keluar menggenggam mok keramik yang
menguapkan aroma kopi. “Halo. Saya Reuben. Nggak pakai
‘Pak’ atau ‘Mas’,” sapanya dalam suara bariton yang sedikit
serak.
Gio mengangguk sopan. Pria itu tampak ramah meski
cambangnya yang lebat meninggalkan kesan sangar.
Rambutnya mengembang ke sembarang arah seperti orang
lupa bersisir seminggu.
“Kopi?” Reuben menawarkan.
“Boleh. Makasih.”
Dimas mempersilakan Gio duduk di sofa. “Kapan sampai
di Jakarta?”
“Baru tadi malam.”
“Bagaimana hasil pencarian di Amazon? Ada
perkembangan?” tanya Dimas.
79

