Page 105 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 105
KEPING 7
Hari bergulir cepat bagi seorang Diva walau sering kali ia
harus menghambarkan rasa, seperti malam ini.
“Halo, Cantik.” Pria beruban itu cengengesan sambil
melepas kacamata tebalnya. Namanya Margono, tapi selalu
berkeras ingin dipanggil Margo, nama gaulnya waktu muda
dulu. Usianya sudah lewat 50 tahun. Seorang Guru Besar
Ilmu Sosial universitas top di Jakarta.
“Halo juga,” jawab Diva tenang, “apa kabar pendidik
bang sa kita satu ini?”
Pria itu tertawa, “Aku suka sindiranmu itu. Pendidikmu
tersayang ini sedang kangen berat. Kangen kamu.”
“Untung juga Bapak nyambi mengajar di program-prog ram
magister pengeruk uang itu, ya. Gaji dosen beneran mana
bi sa bayar saya, Pak. Atau, lagi ada proyek pen di dik an yang
bisa dicatut?”
“Pendidikan sekarang sudah jadi bisnis, Non. Dunia ini
semakin mahal, ilmu tidak terkecuali.”
“Yang penting, jangan sampai kembali ke Kramat Tung-
gak, ya, Pak?”
“Nona Manis, tua-tua begini aku masih punya selera
tinggi. Kalau bukan kamu, ya, aku mana mau.”
“Jangan harap saya tersanjung mendengarnya.”
“Mana G-string pesananku tadi? Sudah kamu pakai,
Cantik?”
94

