Page 103 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 103
KEPING 7
“Kamu serius?” Diva melirik, “Saya pikir benar-benar
cuma makan malam.”
Mobil itu memasuki pelataran parkir hotel dan ber henti
di sana. Muka Nanda tertekuk.
“Jangan jadi beban. Untuk kesenangan sendiri saja, kok,
jadi beban.”
Mendengarnya, wajah Nanda malah makin berat.
“Hidup kamu itu gimana, sih? Sudah saya bilang, jadi
orang sinting itu harusnya gampang. Jadi, nggak usah ber-
lagak waras dengan pasang muka begitu.”
Pria itu seketika mendongak. Ada yang bergolak di da lam
sana. Diva agak terkejut melihat sorot seperti itu un tuk kali
pertama keluar.
“Diva, kalau saya harus mengeluarkan uang untuk se buah
kesenangan, saya lebih suka membayar kamu untuk makan
malam seperti tadi daripada... ah, kamu tahu sen diri. Mung-
kin ini kedengarannya bodoh, tapi saya ingin kamu men-
charge saya malam ini, biarpun sebenarnya kita tidak—”
Diva menggelengkan kepala, pelan. “Saya masih belum
gila, Nanda. Sekalipun kamu sudah. Dan, belum ada ren-
cana ke arah sana juga. Ketulusan bukan ketulusan lagi
kalau kita mulai memperjualbelikannya. Saya memang punya
dagangan, sama seperti kamu. Kita sama-sama ha rus begitu
untuk bertahan di dunianya tukang dagang. Tapi, jangan
cemari satu-satunya jalan pulangmu untuk keluar dari semua
sampah ini, kembali ke diri kamu se benarnya. Sorot mata
92

