Page 101 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 101
KEPING 7
Setengah jam yang lalu, restoran itu menutup pesanan ter-
akhirnya. Lima belas menit lagi menuju tutup total. Para
pelayan berdiri tabah dalam ketidaksabaran mereka, menatap
kedua orang yang tak kunjung beranjak itu.
“Kamu sinting! Sinting! Kamu bilang begitu di depan
orangtua mereka?” Kalimat Nanda menyembur-nyembur di
tengah gelak tawanya.
“Ngomong-ngomong, enak bener, ya, jadi kamu? Orang
sinting yang bisanya cuma ketawa-ketawa sambil bilang
orang lain sinting.”
“He, tapi saya tidak pernah bawa bayi ke mal. Kalau istri
saya, sih, sering. Dengan mertua.”
“Tenang saja, nggak perlu membela diri. Saya nggak
mengatakan kalau itu dosa. Yang jelas, mal pada akhir pekan
adalah hari ekshibisi balita kelas menengah, sekaligus pel a-
jaran pertama mereka untuk jadi konsumtif. Itulah hari
ketika ibu-bapak bermain Barbie dan Ken, sama seperti
anaknya. Bedanya, boneka mereka adalah anaknya sen diri.”
“Apa yang salah dengan itu semua?” sergah Nanda.
“Nggak ada, asalkan mereka sadar dan tidak munafik.
Saya hanya sebal dengan orang-orang yang menjadikannya
excuse, bukti kepada khalayak umum bahwa mereka telah
mem besarkan anaknya dengan baik, padahal itu justru karena
me reka tidak tahu cara lain. Mereka mengambil tugas se ba-
gai pendidik sebelum berhasil mendidik diri me reka sen diri.
90

