Page 100 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 100

Bintang Jatuh

              Tawa Nanda kembali terdengar dari ujung sana.
              Diva membuka daftar alarmnya. “Kamu beruntung, jad-

           wal saya kosong. Jemput saya pukul delapan? Bye.”
              Teringat pohon jeruknya yang baru akan memunculkan
           buah pertamanya, Diva menuju taman belakang, meng geng-
           gam botol semprotan berisi pupuk cair.







           Air liur pria itu langsung terbit begitu melihat Diva me-
           langkah keluar dari pintu. Tanpa bisa memutuskan mana
           yang lebih merangsang, baju berbahan  lycra  warna hitam
           yang  melekat  seperti  kulit  kedua  atau  sepasang  mata  yang

           menghunus tajam seperti samurai haus darah.
              “Saya lapar. Sanggup makan kamu hidup-hidup.” Ucapan
           pertama Diva mengalir tanpa beban.
              Mendengarnya, Nanda benar-benar berjuang menahan
           tumpah air liur. Bagaimanapun Diva seorang profesional,
           sama seperti dirinya. Diva menyatakan tegas bahwa tubuh nya

           terbebas  dari sentuhan sekecil  apa  pun, sampai  ada  ke se-
           pakatan. Sampai ada pembicaraan nominal. Nanda tidak mau
           merusak malam ini dengan buru-buru mem bicarakan soal itu.
           Karena begitu itu terjadi, semuanya tak akan sama lagi.
              Ia lebih butuh Diva untuk hal yang lain.







                                                                  89
   95   96   97   98   99   100   101   102   103   104   105