Page 102 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 102
Bintang Jatuh
Begitulah jadinya. Atau, bisa juga main Barbie dan Ken ada-
lah kompensasi dari repotnya mengurus anak.”
“Kamu memang luar biasa kejam, Sayang.” Nanda men-
decakkan lidah.
“Kamu yang luar biasa buta,” balas Diva tenang. “Coba,
siapa yang memutuskan untuk memiliki anak di antara ka-
lian berdua? Jujur.”
“Kami berdua memang sepakat. Tapi, yang jelas, orang tua
kami tak sabar menggendong cucu. Katanya, jangan ditunda-
tunda, nanti malah nggak dapat-dapat, karier bisa diatur,
anak bawa rezekinya sendiri.”
Diva terkekeh. “Mereka nggak tahu, ternyata kelakuan
anaknya masih seperti bayi, pakai ditambah bayi sung guhan
pula.”
“Dan, kalau anak saya lagi lucu-lucunya, dia pasti bakal
didominasi kakek-neneknya. Eh, begitu giliran kencing, e’ek,
langsung pindah tangan! Sialan!” Nanda tergelak.
“Sudah, ah. Capek.” Diva berbenah, siap bangkit. “Se dari
tadi, kamu tidak tahu sebenarnya siapa yang meng hibur
siapa.”
Mereka berdua pun berdiri, diiringi embusan napas lega
para pelayan.
Tak lama kemudian, mobil mewah itu kembali melaju di
jalanan yang melengang. Sunyi, ditandai suara deru ban yang
berkumandang tanpa iringan musik atau obrolan. Putaran
ban melambat ketika mendekati sebuah hotel.
91

