Page 106 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 106

Bintang Jatuh

              Diva  mengangguk  kecil.  “Kalau  Bapak  ingin  lihat  saya
           pakainya di depan Bapak, itu akan kena  charge  tambahan.

           Saya nggak kepingin malam ini Bapak jadi bangkrut.”
              Lelaki itu menggosok-gosokkan tangannya, terbakar gai-
           rah. Dengan penuh semangat ia merogoh tasnya, me nge-
           luarkan sebuah botol obat, lalu menelan dua butir pil.
              “Div, katanya bakal keluar saingannya Viagra. Lebih

           tokcer. Viagra, kan, bekerjanya terpusat di organ situ saja.
           Kalau yang baru ini, kerjanya langsung menstimulasi otak.
           Nanti temanku ada yang bakalan pergi simposium ke Bos-
           ton, ha-ha-ha, aku mau titip sebotol!”
              Rupanya ia berhadapan dengan bandot gaek yang men-
           coba mengasah tanduk yang bahkan sudah melesak ke da-
           lam. Ingin rasanya Diva menghadapkan cermin.
              Pak Margono melihat jam tangannya. “Kita tunggu se-

           puluh menit. Katanya, barang ini akan bereaksi dalam se-
           puluh menit, paling lama lima belas.”
              Diva pun duduk, melipat tangan. “Sudah sampai mana
           proyek keroyokan resensi Das Kapital-nya, Pak?”
              “Ah, segitu-segitu sajalah. Terlalu banyak sudut pandang

           malah jadi pusing. Yang satu ingin menekankan kritik soal
           materialisme historisnyalah, ada yang ingin mengulas etika
           otonominyalah. Aku suruh saja mereka tulis semua yang
           me reka mau. Paling-paling nantinya saya cari lagi satu orang
           buat meramu-ramu, Chief Editor, semacam itu.”





                                                                  95
   101   102   103   104   105   106   107   108   109   110   111