Page 149 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 149

KEPING 12


             Diva hanyut, terpesona sekaligus resah. Teringat akan
           tugas yang masih harus diembannya. Ia mulai menggigiti
           bibir. “Agaknya kamu akan membuat perdagangan kali ini

           lebih menyenangkan.”
             Dan, Diva benar-benar tak menyangka Gio sepolos itu.
           Lukisan ekspresi wajah Gio melampaui batas verbal, sam pai-
           sampai membuatnya terkesima untuk kali kedua.
             “Kamu nggak apa-apa?” tanyanya lembut seraya me me-
           gang badan Gio yang gemetar dan berbulir keringat. Keri-
           ngat itu keringat dingin. Gio sendiri sepertinya ling lung.
             Bagaimana  ia harus  mengungkapkannya?  Bahwa Diva

           yang kini duduk di hadapannya dengan rambut tergerai tan-
           pa tabir tubuh apa pun adalah pemandangan terindah yang
           pernah ia lihat. Bahwa malam ini ia merasakan magis yang
           membuat seluruh sel tubuhnya memekar bagai bu nga pada
           musim semi. Bahwa seluruh indranya mengecap tempat-
           tempat ternikmat dan terindah yang pernah ia tahu. Bahwa
           ia telah menjadi lelaki yang sesungguhnya. Bahwa Diva
           bagaikan matahari terbenam di Tatshenshini. Un sol em noite.
           Matahari kala malam.
             Matahari itu lalu bangkit, membawakannya air putih.
             “Nih, minum.” Ia tampak benar-benar cemas.
             Setelah sekian lama, Gio akhirnya mampu bicara. “Saya

           nggak apa-apa, kok. Hanya saja, i-ini adalah yang per tama
           buat saya.”
             Diva terkesiap. Pernyataan tadi merangkum semua. Men-
           jawab segala keheranannya.


           138
   144   145   146   147   148   149   150   151   152   153   154