Page 148 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 148
Un Sol Em noitE
Diva mendengarkan semuanya dengan takjub. “Saya ingin
sekali bertualang, naik gunung, rafting,” gumamnya mene ra-
wang. Ia sudah jauh meninggalkan ruangan itu. Ikut ber-
tengger di sol sepatu Gio. Menapaki setiap kerikil dan batu
di tempat-tempat menakjubkan tadi.
“Bisa saja. Tapi, saya ragu, kalau melihat kaki kamu yang
sekecil wortel.”
Diva terbahak, spontan. Di antara seliweran puja puji
kagum tentang kakinya yang ia dengar setiap hari, baru kali
ini ada yang menganggapnya seperti wortel. “Kamu me nye-
nangkan, Gio. Selalu menyenangkan bertemu sese orang yang
masih punya hidup.”
“Kamu kelihatan begitu hidup,” sahut Gio tulus. “Kamu
mengingatkan saya pada Sungai Tatshenshini.”
“Alaska? Kamu pernah ke sana?” Diva terlonjak lagi.
“Baru dua minggu lalu,” Gio tersenyum polos. “Di sana
sedang musim panas, jadi malamnya terang. Waktu itu saya
berdiri di atas tebing. Tatshenshini ada di bawah, membelah
bukit pinus yang sangat rapat. Pinus terbanyak yang pernah
saya lihat. Di langit ada awan-awan nebula yang tadinya ke hi-
jauan, terus berubah, sampai semua la ngit jadi oranye. Se perti
api. Dan, arus sungai di bawah saya...,” Gio meng gelengkan
kepala takzim, seperti masih berada di sana, “... emas. Emas
yang paling berkilau, ber campur buih putih yang mengamuk.
Kamu bisa bayang kan? Sebuah kete nang an—yang bergolak.
Dan, nggak tahu kenapa, kamu mem beri kesan yang sama.”
137

