Page 195 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 195

KEPING 17


             Mereka berdua bertepuk tangan, dan kemudian ter ping-
           kal-pingkal sendiri. Dua bocah laki-laki yang sejenak terle-

           pas dari kerangkeng tubuh pria dewasa.
             Alé yang berdiri di dekat jendela, iseng menyingkapkan
           tirai sedikit. “Nah. Kalau untuk yang itu, aku rela jadi idiot,”
           ujarnya sambil memandang ke luar.
             Re ikutan melihat. Sedan perak itu baru dinyalakan, siap

           berangkat. Seorang perempuan melangkah masuk, kemudian
           duduk di bangku belakang.
             “Re,  aku  akui Rana-mu itu manis  kayak  permen.  Tapi,
           kenapa mesti jauh-jauh, sementara pabrik gula di pelupuk
           mata malah nggak kelihatan?”
             “Iya, kok, lucu ya?” Re malah ikut bertanya.
             Alé tertawa. “Selama ini kamu tinggal di mana, sih?”
             Pertanyaan itu membuat Re termenung. Mungkin Alé

           be nar. Rumah sebagus ini, tapi ia tak pernah benar-benar
           me ninggalinya.
             Terdengar sahabatnya menghela napas. “Andaikan saja
           aku belum punya Lala, dan punya ribuan dolar yang bisa
           kulepas begitu saja.”

             “Maksudmu?”
             Alé kembali menatap Re, geli setengah heran. “Kamu
           benar-benar nggak tahu siapa tetanggamu itu, ya?”
             “Memangnya kamu tahu?”
             “Oh, Bapa di Surga, ampunilah temanku ini karena dia
           benar-benar ketinggalan zaman!” Alé meratap. “Cewek itu



           184
   190   191   192   193   194   195   196   197   198   199   200