Page 223 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 223
KEPING 20
Ferre
Lamat-lamat muncul perasaan bahwa ia sedang diamati. Re
mendongakkan kepala dan mulai mencari.
Matanya berhenti di jendela. Perlahan, ia bangkit berdiri.
Dalam bingkai kosen kayu, terlapis kaca jendela, dan
terarsir terali, keduanya saling menatap. Tatapan yang meng-
isap ruang di antara mereka. Tatapan dalam dimensi waktu
yang bergerak penuh makna.
Dan, dunia bukan lagi milik berdua. Dunia telah me lesak
lenyap. Meninggalkan mereka berdua, tanpa bumi itu sen-
diri.
Bintang Jatuh. Sejernih kristal, Re mendengar hatinya
berbisik.
Hai, Pemabuk Asmara. Diva menyapa.
Dimas & Reuben
“Oh, aku nggak tahan!” Dimas menariki rambutnya sen diri.
“Ayo, kamu harus kuat. Jangan jadi cengeng gitu, dong,”
tegas Reuben galak.
“Penulis boleh berpihak nggak, ya?”
“Eksperimen sains saja dijalani dengan tendensi, kok.
Bahkan, subjektivitas si peneliti akan memengaruhi hasil
penelitiannya. Apalagi ini. Ya, jelas ada keberpihakan.”
212

