Page 224 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 224
Di Celah Pikiran
“Kalau begitu, boleh nggak aku—?”
“Di atas segalanya, kita tetap membawa misi. Dan, misi
ini tidak boleh dikompromikan cuma gara-gara fantasi
roman mu atas tokoh-tokoh tertentu.”
“Coba, aku bisa sesaklek kamu,” keluh Dimas.
“Kalau kamu sesaklek aku, nggak bakalan kamu jadi
penulis. Paling jadi peneliti sinting. Sama juga kalau aku
selembek kamu, nggak bakalan ada yang tahan membuat
kerangka sains dari cerita romantis berbunga-bunga ini.”
“Jadi, kamu bilang aku lembek?”
“Bukan, bukan begitu,” ralat Reuben cepat-cepat, “kamu
adalah manusia paling sensitif yang pernah ku tahu.”
“Terima kasih untuk usahamu memperhalus bahasa,”
sahut Dimas ketus. “Cengeng-lembek-sensitif. Percayalah,
kata-kata itu maksudnya sama, cuma beda kasta saja.”
“Tapi, aku serius. Kamu... kamu adalah manusia nuan sa,”
kata Reuben lagi, tidak menyerah begitu saja, “imaji nasi
kamu begitu kaya seperti fraktal di area infinit Peta Man-
delbrot.”
Dimas mengernyit, “Apa pula itu?”
“Ehm. Nuansa berada di celah pikiran, sebuah ruang
fraktal yang tidak tersentuh cortex. Seluruh dunia ini di-
penuhi potensi nuansa, tapi karena perhatian kita tersita oleh
pengategorian logika, pengotak-ngotakan, maka se ring kita
mengabaikan keindahannya. Padahal, dari nuansa justru
lahir tema besar penemuan-penemuan terhebat du nia. Misal-
213

