Page 30 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 30

Yang ada HanYalaH ada


           nyaan, “Apakah Epimenides berkata sebenarnya?” komputer
           supercanggih pun akan terjebak dalam paradoks logika tak

           berakhir. Bingung antara me milih jawaban “ya” atau “tidak”
           karena keduanya jawaban yang valid.
              Namun,  tidak  demikian  dengan  manusia.  Karena  itu,
           Reuben tidak pernah setuju dengan paradigma fung si onalis-
           me yang berpaham bahwa pikiran manusia satu ba ngun de-

           ngan komputer. Otak sebagai peranti keras, dan pikiran atau
           mind sebagai peranti lunaknya. Kalau betul demikian, tidak
           ada satu orang pun sanggup meng hadapi Epimenides tanpa
           jadi gila. Satu-satunya cara un tuk me nyelesaikan paradoks
           tadi adalah meloncat keluar dari sistem. Manuver kuantum.
           Sesuatu  yang  hanya  dapat  di lakukan  sebuah  sistem  berke-
           sadaran, tidak cuma me kanis.
              Reuben mengangguk-angguk kecil sambil tersenyum

           puas, ia melihat gerbang kuantumnya dalam kondisi yang
           di tawarkan Dimas. “Baiklah, seorang Pujangga. Walau pun,
           aku tidak punya imajinasi cukup untuk mengait kan nya de-
           ngan sosok eksekutif perusahaan multinasional.”
              “Tenang saja. Itu urusanku.”

              “Kita namakan siapa dia?”
              “Jangan ditentukan sekarang. Kita pasti bakalan debat
           panjang soal itu. Sementara sebut saja dia ‘Kesatria’.”
              “Kesatria yang memperjuangkan cinta sang putri. Ber-
           usaha melawan rintangan kasta, harus membunuh naga, oh,
           sungguh romantis,” sahut Reuben setengah mengolok.



                                                                  19
   25   26   27   28   29   30   31   32   33   34   35