Page 27 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 27

KEPING 1


             “Di bawah empat puluh tahunlah. Aku ingin tokoh-to koh
           kita semuanya muda, usia produktif, urban, metropo lis, pu-

           nya akses teknologi dan informasi yang baik. Per cuma pakai
           tokoh gelandangan atau  setting  desa dengan sok-sok pakai
           aksesori kebudayaan daerah. Kenyataannya, para yuppies tadi
           yang bakal jadi corong bangsa, yang mampu mem bangun
           sekaligus paling potensial untuk me rusak.”

             “Usia 20-an akhir sampai 30-an awal, lokasi Jakarta,
           intelek, profesional,” Dimas sibuk mencatat.
             “Jakarta. Aku setuju. Kota ini biangnya dualisme. An tara
           ingin Timur dan berlagak Timur, sembari terdesak habis
           oleh Barat sekaligus paling keras mengutuk-ngutuk.”
             Mendadak Dimas tertawa kecil. “Lalu, bagaimana de ngan
           kita? Look who’s talking, dude. Kita juga muda, orang-orang
           urban, besar di metropolitan, kuliah di luar negeri, di Ame-

           rika pula. Biangnya kapitalis. Tidakkah kita patut di go-
           longkan ke kategori yang sama?”
             “Sarana kita boleh sama, tapi tidak menjadikan ini ikut
           tipikal.” Reuben menunjuk kepalanya dengan penuh per caya
           diri. “Mereka itu sebenarnya manusia-manusia yang ber-

           untung karena punya kesempatan komparasi dan kon tak
           lang sung dengan budaya global, bergelut di dalamnya, men-
           cari ilmu dalam sistem dan iklim yang sama sekali lain.
           Tapi, berapa gelintir yang menjalaninya dengan mak na? Di
           mataku, yang gagal dan cuma ngabis-ngabisin duit ortu de-





           16
   22   23   24   25   26   27   28   29   30   31   32