Page 25 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 25
KEPING 1
seatap sebagaimana biasanya pasangan gay lain. Kalau di-
tanya kenapa, jawabannya: supaya bisa tetap kangen. Tetap
dibutuhkan usaha bila ingin bertemu satu sama lain.
Sepuluh tahun pun bagaikan sekedip mata.
e 2 0 0 1 f
Jakarta
th
“Happy 10 Anniversary, Dimas.”
“Happy Anniversary to you, too, My dear soul mate.”
Semilir angin Ibu Kota yang hangat menyusup masuk
lewat celah jendela ruang tengah Reuben. Sebuah rumah
simpel di daerah selatan Jakarta. Tak banyak detail estetis
dalam tata interiornya. Bisa dibilang, ornamen utama ru mah
itu adalah buku. Jajaran rak buku dari dinding ke dinding.
Padat. Alfabetis. Reuben tidak menamakan ru mahnya per-
pustakaan hanya karena ingin terdengar lebih manusiawi.
Tidak pula ada bunga. Tidak juga boks cokelat di atas
meja bundar itu. Saat hari jadi mereka yang ke-10, yang ada
malah kertas dan bolpoin.
“So,” Dimas memasang kacamatanya, “kita sudah se pakat
kalau masterpiece ini akan menjadi karya berdua. Dan, tidak
dalam bentuk jurnal ilmiah, tetapi sebuah ce rita.”
Muka Reuben langsung bereaksi, memancarkan ke tidak-
relaan.
14

