Page 92 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 92
Bintang Jatuh
Namun, terkadang Diva merasa dirinya sendirian. Meng-
a pa hanya ia yang masih melihat tangan itu dan ma in ku-
cing-kucingan dengannya? Yang lain teraup begitu rapi, be-
kerja begitu mekanis. Dan, ketika matahari terbit nanti,
me reka masih berani-beraninya menyebut diri ma nusia.
Diva menghela napas panjang. Penat. Baginya, dunia be-
gitu usang dan pengap bersimbah peluh. Dengan poros ber-
karat yang tak pernah diganti, dunia mengira dirinya tum-
buh berkembang. Tak ada lagi yang baru di sini. Se mua tawa
beralaskan derita lama, dan semua tangis ber awalkan tawa
yang melapuk.
Ia sadar betapa berat usahanya untuk menggeliat dan
men coba hidup. Melawan kematian ini. Di tengah-tengah
mayat-mayat yang tak sadar mereka telah mati.
Diva melangkah masuk ke dalam mal. Hiruk pikuk. Sua sana
mal di akhir pekan selalu memberikan sensasi terba kar di
se kujur tubuhnya. Gerah luar biasa. Belum apa-apa, Diva
sudah ingin pulang.
Di atrium, panggung itu berdiri dengan dekorasi bak kue
tar murahan. Dentuman lagu anak-anak house mix saling
berburu dengan suara manusia. Riuh seperti dalam rumah
lebah.
“Mbak Diva,” seorang perempuan dengan kartu panitia
81

