Page 93 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 93
KEPING 7
tergantung di leher menyambutnya, “makasih sekali sudah
datang, ya, Mbak. Silakan, perlombaannya sebentar lagi
dimulai.”
Diva hanya tersenyum sopan dan langsung duduk di tem-
pat yang disediakan.
“Selamat sore, Mbak. Kenalkan, nama saya Hari, Juri
Dua.” Seorang pria berkacamata mendadak muncul dan me-
nyuguhkan tangan.
“Mbak Diva! Halo, saya Ibu Tetty dari Yayasan Bina
Ceria. Ini anak-anak asuhan saya semua lho, Mbak. Oh, ya,
saya jadi Juri Tiga. Aduh, Mbak Diva ternyata lebih cantik
aslinya, ya.”
“Memang, Bu,” sahut Diva datar. Mendadak siang itu ia
merasa jabatan juri lebih penting daripada presiden.
Ia memandangi wajah-wajah cilik itu. Kepolosan yang
hari ini akan dicoreng ambisi untuk menjadi yang paling
cantik. Wajah mereka semuanya dipulas make-up yang se-
harusnya tidak ada di sana. Menurutnya, make-up diper-
untukkan bagi perempuan-perempuan yang beranjak jelek,
atau tepatnya, merasa jelek. Bagi mereka-mereka itulah patut
ada usaha ekstra. Tapi, bukan anak-anak ini.
Diva memandangi kaki-kaki kecil mereka. Rata-rata
memakai sepatu bot hak tinggi, rok supermini, tank top, dan
jaket bermotif kulit binatang. Bahkan, sekecil mereka sudah
belajar berdandan seperti tukang jagal.
Ketika perlombaan dimulai, bolpoin dan kertas berisi
kolom penilaian tak disentuhnya sama sekali. Diva hanya
82

