Page 95 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 95

KEPING 7


             Diva sungguhan cemas akan apa yang ia lihat.
             Seorang anak dengan kuncir setinggi menara berjalan ke

           arahnya bak peragawati  profesional.  Matanya menan tang,
           mengerlingi para juri, berusaha meninggalkan kesan di sana.
           Bajunya berwarna menyala seperti tinta Stabillo, belum lagi
           syal bulu yang dilambai-lambaikannya genit. Sebagai aksi
           penutup, ia mendadak meliuk seperti ular. Kemudian, ia me-

           monyongkan bibirnya centil,  seolah-olah mencium  mereka
           semua.
             Kontan penonton kaget, mereka pun berteriak kagum.
           Suara tepuk tangan meriuh.
             “Luar biasa, ya, anak sekarang,” Hari mencondongkan
           badan, berbisik kepadanya.

             Diva menelan ludah. Ini cara terbaik untuk mengeluar kan
           makan siangnya.
             Total ada tujuh belas peserta. Tujuh belas obat penca har
           yang kalau sampai ditambah lagi niscaya akan mengu ras
           total isi lambung.
             Mereka bertiga pun disuruh rapat.

             “Gimana, Har, berapa jumlahnya? Kalau aku, sih, suka
           sa ma yang nomor sebelas itu, lho. Kalau Mbak Diva gi-
           mana?” Bu Tetty tampak masih bersemangat. Ia harus me-
           muaskan para orangtua yang telah membayar mahal untuk
           klub ciliknya.
             “Punya  saya  dilihat  belakangan  saja,  Bu,”  jawab  Diva
           kalem.



           84
   90   91   92   93   94   95   96   97   98   99   100