Page 94 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 94

Bintang Jatuh

           melipat tangan, bersandar pada kursi, memandangi tiap anak
           lekat-lekat. Menjadikan para panitia di sekitarnya mulai

           berbisik-bisik curiga. Begitu juga dengan Ibu Tetty dan Hari
           yang  saling  lirik,  mencemaskan Ketua  Juri  me reka  yang
           tidak menulis apa-apa. Diva tahu itu semua, tapi tak peduli.
           Mereka tak akan mengerti kecemasannya.
              Anak-anak itu melangkah, berputar, dan berpose de ngan

           senyum artifisial. Sesekali mereka melirik ke arah orang-
           tuanya yang sama cemasnya, takut anak-anak mereka lupa
           hitungan langkah atau pose yang sudah dilatih ber hari-hari.
              Anak-anak ini mungkin akan jadi gembrot pada usia
           tujuh belas, tingginya mandek pada usia lima belas. Peme-
           nang hari ini mungkin berubah pikiran, dan jadi peneliti di
           LIPI. Anak yang diklaim paling jelek hari ini mungkin akan
           menjadi model top pada usia dua puluh. Segala pro babilitas

           dan ketidakpastian hidup tidak memberikannya sedikit pun
           alasan untuk memilih pemenang. Menang akan apa? Untuk
           kemudian beberapa anak menjadi min der dan merasa dirinya
           jelek? Lalu, kedua orangtua mereka setengah mati berusaha
           menghibur, mengirim mereka kembali ke berbagai perlom-

           baan, dan kali ini dengan “per senjataan” lebih lengkap. Lebih
           direncanakan. Lebih di buat-buat.
              Seharusnya, hari ini menjadi pesta sukaria bagi mereka,
           kesempatan untuk bertemu teman-teman sebaya sebanyak ini.
           Seharusnya, mereka berlarian telanjang sesuka hati. Tertawa
           terbahak-bahak. Menari. Terjatuh. Bermain tanpa aturan.



                                                                  83
   89   90   91   92   93   94   95   96   97   98   99