Page 97 - Supernova 1, Ksatria, putri dan bintang jatuh
P. 97

KEPING 7


           tunggu dikasih tahu orang. Kakak punya mantra aja ib. Be-
           gini caranya, Adik-Adik pergi ke cermin, dan bi lang begini,

           ‘Saya cantik—saya cantik—saya cantik’, begi tu. Kakak jamin,
           kalian semua pasti akan cantik-cantik. Sam pai kapan pun.
           Selama-lamanya. Amin. Mengerti se muanya?”
             Atrium yang tadinya bising, mendadak senyap. Anak-
           anak mendengarkan dengan mulut menganga. Para orang tua

           saling berpegangan tangan, mencari kekuatan. Badut-badut
           di pinggir panggung menghentikan aksinya. Pem bawa acara
           kehilangan  kata-kata.  Para  panitia  menunduk kan  kepala
           cemas. Acara mereka hancur sudah.
             Sementara wajah itu tidak berubah. Sama sekali tidak
           terpengaruh gejolak hebat di sekelilingnya. Dengan lang kah
           tenang dan anggun, Diva turun dari panggung. Lang sung
           menuju pintu keluar.







           “Pulang langsung, Non?” sopirnya, Pak Ahmad, bertanya.
             “Langsung, Pak.”
             Sepanjang jalan, Diva menggigiti bibir. Ia selalu begitu

           ketika ada sesuatu yang menggairahkannya. Ia memikirkan
           anak-anak tadi, yang mendengarkan dan mungkin menger ti.
           Mungkin ia telah memperbaiki sesuatu dalam konstruk si
           berpikir mereka. Semoga saja.
             Diva teringat akan tubuh tingginya yang dulu seceking



           86
   92   93   94   95   96   97   98   99   100   101   102