Page 100 - Supernova 4, Partikel
P. 100

Dua puluh tahunan lalu, Ibu Inga dan suaminya datang kemari sebagai peneliti. Belum
        pernah sebelumnya ada studi intensif tentang orangutan. Orangutan saat itu masih menjadi
        primata  misterius,  tersamar  dalam  bayang-bayang  hutan  dengan  rambut  oranye
        kemerahannya,  tanpa  ada  yang  tahu  pola  perilakunya,  berapa  banyak  anak  yang  bisa
        dilahirkan sepanjang hidupnya, berapa lama kehamilannya, bagaimana interaksi sosialnya,

        interaksi dengan habitatnya. Bisa dibilang, hampir semua yang diketahui di dunia saat ini
        tentang orangutan adalah hasil penelitian Ibu Inga.

          Meski Ibu Inga orang asing, dengan kewarganegaraan asing, secara de facto dialah sosok
        nomor  satu  di  Tanjung  Puting.  Pengalaman,  pengetahuan,  bukti  perhatian,  dan  kasih
        sayangnya kepada orangutan telah teruji waktu. Orang-orang di sini segan kepada Ibu Inga
        lebih dari apa pun.

          Bisa  bertemu  dengan  Ibu  Inga  langsung,  bertanya-tanya  kepadanya,  mendengar
        penjelasannya, adalah kesempatan yang berharga. Ibarat belajar kepada guru nomor satu.


          Akan tetapi, hari itu kami tidak beruntung. Ibu Inga yang bolak-balik ke Kanada baru
        kembali  ke  kamp  besok.  Sementara  itu,  kami  akan  bermalam  di  muara  Sekonyer  yang
        cukup jauh dari sini, dan langsung bertolak ke Pangkalan Bun pagi-pagi sekali. Bintang
        yang ditunggu-tunggu tak ketemu.

          Nasib  serupa  masih  berlanjut.  Saat  pemberian  makan,  tak  ada  orangutan  liar  yang
        muncul. Kami menunggu, dan menunggu. Pawang memanggil, dan memanggil. Sampai
        sejam, akhirnya dua orangutan muncul. Sementara itu, kami sudah lesu bersimbah peluh.

          Bagi staf, itu pertanda baik. Artinya, di hutan sedang berkecukupan buah-buahan untuk

        makanan  orangutan.  Kurang  baik  bagi  kami,  turis  yang  berharap  bisa  memotret  dan
        berpotret dengan makhluk yang menjadi tujuan kami kemari.

          Sambil menghibur diri dengan mengenang hari-hari baik sebelumnya di Tanjung Puting,
        kami kembali ke kelotok.




        Malam terakhir di atas Sekonyer. Pak Mansyur membawa kelotok kami menepi di muara.

        Pak Mansyur lalu berkisah tentang pertunjukan dangdut akbar yang tiap tahun digelar di
        Banjarmasin, disponsori perusahaan rokok. Pertunjukan itu berlangsung semalam suntuk,
        dengan  panggung  dan  tata  lampu  yang  didatangkan  dari  Pulau  Jawa,  ditutup  dengan
        pertunjukan kembang api. Bagi Pak Mansyur, itulah pertunjukan cahaya buatan manusia
        terindah yang pernah ia lihat.

          Tetapi, ada satu pertunjukan alam yang mampu menyainginya. Di tepi hutan nipah ini
        akan ada “pertunjukan” spesial yang berlangsung pada musim khusus. Tersedia gratis bagi

        mereka yang beruntung.

          Di  muara  tempat  kami  parkir,  berkumpullah  ribuan,  mungkin  puluhan  ribu,  kunang-
        kunang yang melakukan ritual kawin. Kunang-kunang jantan akan membuat kelap-kelip
        cahaya, direspons oleh kunang-kunang betina. Persaingan dalam rangka cari perhatian itu
        membuat  kelap-kelip  mereka  tersinkronisasi.  Hasilnya  adalah  pertunjukan  cahaya  yang
        luar biasa.
   95   96   97   98   99   100   101   102   103   104   105