Page 101 - Supernova 4, Partikel
P. 101

Malam itu, kami berkumpul di dek. Dan, nasib baik kembali berpihak.

          Pak Mansyur benar. Kawanan kunang-kunang itu seolah meniatkan diri untuk membuat
        pertunjukan. Sejam lebih menghibur kami yang terhipnotis di atas kapal. Dengan gerakan
        yang seperti diorkestrasi, mereka menyala silih berganti seperti ribuan lampu natal dalam
        siluet malam.

          Kuhabiskan setengah rol untuk mengabadikan cahaya mereka dengan kecepatan rendah.

        Setengah mati menahan agar tangan dan tripodku tetap stabil di atas kelotok yang tidak
        pernah ajek karena senantiasa dibuai air.

          Aku tak tahu pertunjukan panggung macam apa yang pernah ditonton Pak Mansyur, tapi
        bagiku, tak ada lagi keindahan yang menandingi pertunjukan cahaya kunang-kunang di
        tepi Sungai Sekonyer.

          Ketika  kutanyakan  apa  yang  terjadi  sesudah  pertunjukan  cahaya  itu,  Pak  Mansyur
        menjawab tegas, “Jantannya mati.”

          “Kejamnya cinta,” celetuk Deni setengah berlagu. Diikuti derai tawa yang lain.

          Alam tidak pernah berbasa-basi. Dengan jujur dan tanpa kompromi, alam menunjukkan

        bahwa  terkadang  kita  harus  mati  demi  memperjuangkan  tujuan  yang  lebih  besar.
        Pertunjukan itu menggugahku lebih dalam daripada yang kuantisipasi.

          Malam itu juga kuputuskan, aku tak pulang lagi ke Jawa.

                                                                                                               4.

        Esok harinya, keputusanku untuk tidak pulang ke Jakarta menggemparkan seisi kelotok.

          Melalui pertengkaran sengit yang berakhir dengan aku menandatangani surat perjanjian
        pelepasan  tanggung  jawab,  aku  berhasil  tinggal.  Aku  meminta-minta  maaf  kepada  Pak
        Mansyur dan seluruh kru Duyung karena mereka sepertinya terpukul dengan konflik yang

        terjadi di atas kelotok mereka yang damai.
          Dengan  menumpang  kelotok  umum  yang  berpapasan,  aku  kembali  ke  kamp  terakhir.

        Pak Mansyur melepasku dengan air muka antara linglung dan shock, sementara tak satu
        pun rombonganku sudi dipamiti. Mereka kembali ke Jakarta sesuai dengan jadwal. Tanpa
        aku.

          Terdamparnya aku di Tanjung Puting ternyata berbuntut panjang. Di sini, statusku adalah
        turis  dan  tak  punya  izin  menetap.  Aku  tak  punya  sponsor  dan  tidak  mewakili  institusi
        mana pun. Usiaku yang baru tujuh belas juga tidak membantu. Singkat kata, aku dianggap

        anak remaja yang kabur dari rumah dan akan merepotkan semua orang.

          Bertepatan dengan itu, “bintang” yang kemarin ditunggu-tunggu hari ini tiba di kamp.
        Ibu Inga.

          Sore-sore, petugas kamp akhirnya membawaku menemui Ibu Inga yang baru saja sampai
        di Tanjung Puting dan belum sempat beristirahat dari perjalanan panjangnya. Ia langsung
        disodori masalah. Aku.

          Dibawa  menghadap  Ibu  Inga  saat  itu  rasanya  seperti  hendak  diadili  oleh  ratu  rimba.
   96   97   98   99   100   101   102   103   104   105   106