Page 103 - Supernova 4, Partikel
P. 103

dirawat di kamp, keluarga orangutan itu pastinya pernah mampir mengambil makanan di
        dek tempat pemberian makan. Tanpa dek-dek itu, kecil sekali kemungkinan orangutan bisa
        bertahan.

          Ibu orangutan tersebut tewas dipukuli oleh pemburu gelap. Dari hari pertama aku datang
        bersama  rombongan  di  Tanjung  Puting,  kami  sudah  mendengar  kasak-kusuk  yang
        merebak,  tertangkap  dari  obrolan  para  pemandu  dan  petugas,  bahwa  sedang  terjadi

        ketegangan baru antara perusahaan kelapa sawit dan orangutan. Orangutan, yang suaranya
        diwakili  oleh  pihak  konservasi,  kembali  didesak  oleh  konsesi  abu-abu  yang  tak  jelas
        menarik garis batas antara area dilindungi dan tidak. Ibu dan kedua anaknya ini berada di
        area  sengketa.  Di  area  semacam  itu,  konon  beredar  instruksi  untuk  menangkap  atau
        membunuh orangutan di tempat. Tentu, membunuh lebih mudah. Ketika orangutan dewasa

        disingkirkan,  anaknya  bisa  dijadikan  uang  di  pasar  gelap  satwa  langka.  Harga  anak
        orangutan  berkali  lipat  dibanding  gaji  para  penebang  kayu.  Waktu  ibu  orangutan  ini
        dikejar, target sesungguhnya adalah kedua anaknya.

          Dalam keadaan panik, anak orangutan akan berlindung pada ibunya. Ibu yang malang ini
        harus ditempeli dua anak sekaligus. Gerakannya yang melamban menjadikannya mangsa
        empuk.

          Ibu mereka tewas oleh tiga pukulan fatal di kepala. Dua anaknya menangis dan meronta
        saat  ditarik  paksa  oleh  pembunuh  ibunya.  Secara  instingtif  mereka  akan  melekat  terus
        pada badan induknya. Apa pun yang terjadi.


          Dua anak orangutan itu masih beruntung. Patroli konservasi sedang tak jauh berada di
        sana. Sekali tembakan ke udara membubarkan kelompok pemburu. Patroli langsung lari
        menyergap. Dua dari mereka tertangkap. Satu berhasil kabur.

          Bayi  orangutan  kecil  itu  didapati  tengah  menyusu  ibunya  yang  sudah  jadi  bangkai.
        Lengan si ibu masih memeluk tubuh mungilnya. Yang besar memeluk erat kaki ibunya.
        Tak berhenti menjerit. Untuk bisa membawa keduanya, petugas terpaksa ikut mengangkut

        mayat  ibunya.  Mereka  baru  bisa  dipisahkan  keesokan  paginya.  Dan,  kini  tibalah  dua
        bersaudara itu di kamp.

          Anak-anak orangutan lainnya yang tak beruntung diselundupkan di kapal tanpa makan
        dan  minum  hingga  Singapura  dan  Hong  Kong,  untuk  kemudian  diperdagangkan  di
        jaringan  internasional  yang  menjual  satwa  langka  secara  gelap.  Yang  bisa  bertahan
        jumlahnya tak sampai setengah. Dari lima, tiga mati di jalan.

          Karena tak sampai tertangkap dan dikurung lama, kedua anak orangutan ini masih dalam
        kondisi baik. Hanya mental mereka yang terpukul, terutama yang kecil.


          Seperti manusia, setiap individu orangutan memiliki kepribadian unik. Orangutan punya
        kompleksitas dan kerentanan emosi seperti manusia. Mereka bisa menunjukkan trauma,
        gangguan jiwa, juga afeksi kepada yang dicinta. Itu yang selalu diceritakan orang-orang di
        sini  tentang  orangutan,  dan  meski  baru  empat  hari  melihat  langsung,  aku  melihat
        kebenarannya.

          Dengan  mata  bundarnya  yang  berkilau,  tatapan  orangutan  akan  meninggalkan  kesan
   98   99   100   101   102   103   104   105   106   107   108