Page 98 - Supernova 4, Partikel
P. 98

dan bekerja. Mataku lalu menangkap seekor kadal besar yang melintang kaku di batang
        pohon, coraknya nyaris lebur dengan batang tempat ia berbaring.

          Terdengar  suara  Deni  yang  berseru,  menunjuk  ke  arah  seekor  burung  pekakak  emas
        berbulu kuning-biru dengan paruh merah. Sesaat kemudian, muncul kelebatan kawanan
        lutung merah di kanopi pohon.

          Kudengar seseorang lagi berseru, “Lihat, di atas!”

          Kepala kami serempak mendongak, mendapatkan seekor Pteromyni terbang melayang

        menyeberang  sungai.  Bentangan  selaput  di  antara  kakinya  mengembang  bagai  jubah
        superhero,  dan  dengan  ringan  ia  mendarat  di  batang  pohon.  Kembali  kami  serempak
        berdecak kagum.

          “Kita benar-benar beruntung,” cetus Pak Mansyur berseri-seri. “Jarang bajing terbang
        muncul pas lagi terang begini. Dan, banyak sekali binatang lain yang kelihatan. Mungkin
        di antara kita ada tamu spesial.”

          Sesekali perahu kami berhenti karena terhalang batang dan semak yang menggumpal di

        permukaan  air.  Deni,  kru  serbabisa  Duyung,  dengan  sigap  langsung  bertindak.  Dengan
        sebatang kayu  panjang,  ia  menyodok-nyodok  perintang  jalan  sampai  perahu  kami  bisa
        lewat lagi. Pada saat seperti itu, mataku langsung jelalatan, liar mencari objek yang bisa
        kuabadikan. Semua ini terlalu indah untuk dilewatkan.

          Tak  terasa,  kami  tiba  di  kamp  kedua.  Kamp  ini  lebih  dikhususkan  untuk  persiapan
        transisi  para  orangutan  yang  akan  dilepas  kembali  di  hutan  setelah  rehabilitasi.  Sama
        seperti di  persinggahan  pertama,  kami  akan  menonton  pemberian  makan.  Buah-buahan

        kembali  digelar,  dan  kami  menanti  turunnya  orangutan-orangutan,  baik  yang  masih
        rehabilitasi  maupun  yang  sudah  dilepas  tapi  masih  mengandalkan  kamp  untuk  mencari
        makan.

          Yang menjadi atraksi ekstra di kamp kedua ini adalah orangutan jantan bernama Marlon.
        Dialah  jantan  superior  yang  menjadi  penguasa  di  sini,  sebuah  posisi  yang  harus
        diperjuangkan antarjantan, terkadang melalui pertarungan.

          Ketika Marlon muncul, suara jepretan kamera terdengar bertubi-tubi. Persis kedatangan
        seorang bintang. Ukuran Marlon memang besar, badannya kokoh dengan lengan-lengan

        yang  menancap  mantap  di  tanah  saat  ia  berjalan.  Rambut  di  garis  punggungnya  sudah
        habis,  membentuk  jalur  botak  sampai  di  atas  tulang  ekor.  Kantong  pipinya,  yang
        merupakan ciri khas orangutan jantan, tebal dan mencuat. Aku bisa membayangkan, di
        dunia orangutan Marlon pastinya dianggap sangat gagah dan macho.

          Dengan  tatapannya  yang  acuh  tak  acuh,  Marlon  melirik  ke  arah  kami.  Fans-nya.  Ia
        menaiki  dek  dengan  santai,  memakani  buahnya  bak  seorang  raja  yang  dikelilingi  para
        ajudan  dan  selir.  Dapat  terbaca  dominasi  Marlon  dari  bagaimana  orangutan  di

        sekelilingnya  memberikan  ruang  untuknya  memilih  buah  yang  disuka  tanpa  ada  yang
        berani merebut. Sebisa mungkin mereka tidak bersinggungan dengan buah yang dipilih
        Marlon.

          Setelah kenyang melihat Marlon dan pasukan, kami dibawa trekking ke hutan Pesalat,
   93   94   95   96   97   98   99   100   101   102   103