Page 102 - Supernova 4, Partikel
P. 102

Hatiku kecut bukan main.

          “Nama  kamu  siapa?”  katanya  dengan  bahasa  Indonesia  tempo  cepat  tak  tersendat.
        Suaranya lembut, keibuan. Tak heran orang-orang di sini begitu menyukainya, termasuk
        para orangutan.

          “Zarah, Bu,” jawabku.

          “Kamu menang lomba foto, terus dapat hadiah wisata ke sini?”

          Aku mengangguk.

          “Kenapa kamu nggak mau ikut pulang dengan rombonganmu?”


          Aku ingin bilang, “pulang” adalah konsep yang membingungkan bagiku. Dan, aku ingin
        membuat  perjudian  dengan  tempat  ini.  Barangkali,  jika  ia  mengizinkan,  aku  bisa
        menjadikan Tanjung Puting sebagai tempatku “pulang”. Semua kalimat itu tak keluar.

          “Saya mau kerja di sini, Bu,” jawabku.

          Ibu Inga tersenyum, lalu kepalanya menggeleng. “Kami nggak punya uang untuk gaji
        kamu.”

          “Saya mau kerja tanpa dibayar,” kataku cepat. “Saya bisa motret, saya bisa kerja apa
        pun, saya sudah biasa tinggal di hutan.”

          “Kami nggak punya ruang untuk menampung kamu.”

          “Saya tinggal di luar saja, pakai tenda.”

          “Di sini, saya sudah terbiasa menerima relawan, ada yang berbulan-bulan. Yang sampai

        setahun lebih juga ada. Tapi, mereka tidak menodong kami di tempat. Semuanya memberi
        tahu dari jauh hari. Biarpun di sini hutan, kami tetap punya aturan,” katanya tegas, walau
        suara itu tetap terdengar lembut mendayu.

          “Bu Inga!” Seorang laki-laki tahu-tahu muncul di pintu. “Sudah datang, Bu,” katanya
        pendek, lalu menghilang lagi.

          Ibu Inga langsung ikut berdiri dan keluar. Aku tak tahu apa yang baru saja datang. Aku
        ikut keluar saja untuk mencari tahu.

          Di  luar,  sebuah  kandang  kayu  sudah  terparkir.  Beberapa  orang  menggotongnya  dari

        perahu. Ternyata bukan cuma aku masalah yang harus dihadapi Ibu Inga pada hari pertama
        kepulangannya ke kamp.

          Dari  obrolan  staf,  aku  menangkap  bahwa  di  dalam  kandang  kayu  itu  ada  dua  bayi
        orangutan yang baru kehilangan ibunya. Mereka bersaudara. Yang satu masih sangat kecil,
        usianya baru setahun. Sedangkan yang satunya lagi sudah hampir enam tahun, sebentar
        lagi memasuki masa independen. Terakhir ditemukan, mereka masih bersama-sama, ibu
        dan kedua anaknya ini.


          Menurut keterangan petugas, orangutan yang terbunuh itu adalah orangutan asli alam
        bebas  yang  belum  pernah  dibesarkan  di  kamp.  Tapi,  semua  tahu,  hampir  tidak  ada
        orangutan di sini yang tidak pernah berinteraksi dengan kamp. Walau betul ia tidak pernah
   97   98   99   100   101   102   103   104   105   106   107