Page 95 - Supernova 4, Partikel
P. 95

Sekarang nyaris tak ada lagi. Ikan tawar seperti gabus, toman, dan arwana lenyap dengan
        drastis.

          “Kalau ikan sudah tidak ada yang sanggup hidup di sini, binatang-binatang lain akan
        menyusul,”  tutur  Pak  Mansyur  datar.  Matanya  menerawang.  Kondisi  itu  seperti
        melumpuhkannya.

          Hampir  dua  puluh  kilometer  perjalanan  kami  diapit  nipah  yang  rapat  lebat.  Daun-

        daunnya yang menyirip seolah memagari tepian sungai. Kontaminasi yang diceritakan Pak
        Mansyur  belum  tampak  jelas  pada  vegetasi  di  sekitar  Sekonyer.  Setidaknya  oleh  mata
        awam. Namun, mereka yang berinteraksi dekat dengan sungai ini bisa merasakan, detak
        bom waktu itu terus berdenyut. Tanpa kompromi.

          Sungai kian menyempit. Pagar nipah yang tadi seolah tiada akhir pun berganti. Sungai
        kini didominasi semak pandan. Aroma pandan yang wangi mulai tercium di udara. Tak
        lama,  kami  tiba  di  Tanjung  Harapan,  Desa  Sei  Sekonyer.  Segala  urusan  administrasi

        dibereskan  di  sini.  Pak  Mansyur  kemudian  menggelar  makan  siang  di  atas  kelotok.
        Sesudahnya, kami bebas berjalan-jalan di desa.

          Terlihat  bisnis  homestay  di  Tanjung  Harapan  sedang  tumbuh.  Beberapa  plang  iklan
        sederhana kutemui di tepi jalan. Beberapa penduduk mendatangi kami dan menawarkan
        jasa “Batimung”. Mandi uap dengan bunga-bungaan dan rempah yang biasanya dilakukan
        oleh calon pengantin. Layanan spa tradisional ini merupakan pertanda masyarakat lokal
        telah  mengadopsi  konsep  bisnis  pariwisata.  Dari  sekian  tradisi  yang  mereka  punya,

        mereka seleksi dan mereka kemas dalam porsi yang bisa dinikmati pendatang.

          Aku  melihat  itu  semua  sebagai  jasa  orangutan  bagi  desa  ini.  Puluhan  kelotok  yang
        mengangkut  wisatawan  kemari  adalah  akibat  daya  tarik  kera  berbulu  oranye  itu,  yang
        kehilangan  rumahnya  meter  demi  meter,  hari  demi  hari,  gara-gara  eksploitasi  manusia.
        Seiring dengan populasinya yang menurun, popularitas orangutan malah meningkat, dan
        manusia akan kembali menemukan cara untuk menumpanginya. Aku merenungi simbiosis

        aneh itu sepanjang makan siang.
          Menjelang  sore,  kami  bersiap  di  tempat  pemberian  makan  orangutan.  Seolah  akan

        menonton  pertunjukan,  turis-turis  duduk  rapi  di  bangku  kayu  memanjang,  menunggu
        orangutan datang menghampiri hamparan pisang dan nanas yang sudah disiapkan untuk
        mereka. Dua kali sehari tanpa alpa, buah-buahan disediakan di dek itu.

          Tak lama, satu per satu orangutan muncul. Ada yang sambil menggendong anak. Ada
        yang datang sendirian. Petugas hutan yang menjadi koordinator acara makan bersama itu
        hafal setiap nama orangutan, yang di mata kami terlihat sama semua. Ia menyebut nama
        mereka satu-satu: Rangga, Yanto, Mickey, Burhan, Tom, Asep, Novi, Chelsea, Chika, dan

        seterusnya. Nama mereka begitu campur aduk, aku sampai tergeli-geli sekaligus penasaran
        asal usul nama-nama itu.

          Total ada 25 orangutan yang dibina di kamp. Yang muncul untuk makan ada sekitar lima
        belas.  Menurut  petugas,  absennya  orangutan  di  tempat  makan  bukan  indikasi  buruk.
        Sebaliknya,  bagi  mereka  itu  berarti  orangutan  makin  independen  dan  ketersediaan
        makanan di alam bebas sudah mencukupi hingga mereka tak perlu lagi bergantung pada
   90   91   92   93   94   95   96   97   98   99   100