Page 96 - Supernova 4, Partikel
P. 96

bantuan kamp.

          Anehnya,  saat  mereka  makan  dan  ramai  dirubung  turis,  aku  tak  tergerak  untuk
        mengambil  gambar.  Aku  lebih  menikmati  menatapi  mereka  satu-satu:  cara  mereka
        berinteraksi,  memilih  buah,  mengupas,  dan  sesekali  beradu  tatap  dengan  kami.  Mata
        bundar mereka memancarkan ketenangan, nyaris mirip ketakpedulian, gerakan mereka tak
        tergesa, seolah semesta kami dan mereka bergerak dalam dimensi waktu yang berbeda.


          Tanjung  Harapan  baru  persinggahan  pertama.  Ada  dua  kamp  lagi  yang  akan  kami
        kunjungi selama tur ini.

          Saat kami kembali, atap kelotok Pak Mansyur sudah dipenuhi oleh kawanan monyet dan
        bekantan.  Sepanjang  siang  mereka  berlindung  di  kanopi  pepohonan  untuk  menghindari
        panas.  Begitu  matahari  turun,  mereka  ikut  turun  menghampiri  perahu,  mencari potensi
        makanan yang bisa digasak atau sekadar bersosialisasi.

          Kelotok  kami  kembali  bergerak.  Saat  langit  mulai  gelap,  barulah  Pak  Mansyur
        menepikan Duyung. Awak kelotok mulai beres-beres, menyiapkan makan malam.


          Di tepi Sekonyer, kami makan malam diterangi cahaya lilin. Makan malam ini tercantum
        sebagai  salah  satu  fitur  paket  wisata  yang  dijual  Pak  Mansyur,  dan  ia  memakai  istilah
        romantis “candle light dinner”. Aku rasa ia tidak berlebihan. Cahaya lilin dan rengkuhan
        sungai malam hari memang menciptakan suasana kencan Valentine. Terlepas siapa pun
        rombongannya.

          Sehabis makan, gerimis mulai turun. Rencana kami untuk nyanyi-nyanyi sambil bergitar
        bertemankan bintang bubar jalan. Hujan semakin rapat. Tenda-tenda plastik diturunkan.

        Lantai  dek  yang  licin  dipel.  Proses  menyulap  dek  menjadi  kamar  tidur  pun  dimulai.
        Setelah  selesai,  anggota  rombongan  satu  per  satu  menentukan  posisi.  Berbaring  tidur
        ditemani suara hujan yang menciumi permukaan sungai bertubi-tubi.

          Hutan  ini  dinamakan  “rain forest”  karena  hakikatnya  sebagai  “pabrik”  hujan.  Walau
        kami  tidak  datang  di  musim  penghujan,  hampir  tiada  hari  tanpa  hujan  di  hutan  hujan
        tropis. Tinggal masalah kebagian pukul berapa dan berapa lama.

          “Nggak masuk kamar?” tanya Pak Sam kepadaku yang masih bertahan di atas dek tanpa
        topi atau payung.


          “Sebentar lagi, Pak,” jawabku.

          “Nggak berteduh?” Pak Sam bertanya lagi. Setengah mendesak.

          “Sudah biasa, Pak,” ucapku ringan. Aku tidak membual. Hidup di Kabupaten Bogor, di
        bawah atap saung, berkendaraan sepeda, cukup membuatku kebal terhadap rinai hujan.

          Pak Sam akhirnya meninggalkanku sendirian.

          Di mataku, ada pesona tersendiri yang dibawa hujan, yang dibawa oleh sensasi basah
        kuyup  ini.  Rintik  yang  rapat  menciptakan  tirai  kelabu  yang  menyelimuti  setiap  celah
        hutan.  Tanpa  pandang  bulu.  Sejenak,  batas  antara  sungai  dan  pepohonan  terasa  saru.
        Sejenak, batas antara kami dan segala spesies lain di alam ini lebur. Hujan dan malam

        mempersatukan kami semua.
   91   92   93   94   95   96   97   98   99   100   101