Page 99 - Supernova 4, Partikel
P. 99

tempat  dilaksanakannya  reboisasi  hutan.  Di  sana,  kami  melakukan  ritual  tanam  bibit
        pohon ulin. Sambil menanamkan bibit pohon setinggi lima puluh senti itu aku berpikir,
        betapa ilusifnya kegiatan ini. Niat mulia manusia menanam ulang pepohonan tidak akan
        pernah bisa menggantikan hutan yang terbentuk alami melalui proses puluhan ribu tahun.

          Orangutan telah ber-evolusi bersama alam selama dua juta tahun. Manusia baru muncul
        200.000 tahun terakhir. Namun, dalam seratus tahun ini saja, atas nama ekonomi manusia

        telah  mendesak  orangutan  hingga  mendekati  punah.  Hanya  dua  puluh  persen  populasi
        orangutan  yang  kini  tersisa.  Dengan  naifnya,  manusia  berusaha  mengembalikan  hutan
        kembali seperti sedia kala. Di mataku, kegiatan ini cuma simbolis, sekadar pelipur bagi
        rasa bersalah kita yang telah merampas sedemikian banyak dari alam. Sama seperti Ayah,
        aku percaya cuma alamlah yang punya kekuatan untuk menyembuhkan dirinya sendiri.

        Dengan atau tanpa kita.
          Khusus  malam  ini,  kami  tidak  menginap  di  atas  sungai,  tetapi  di  sebuah  ecolodge di

        tengah hutan. Di rombonganku terjadi kasak-kusuk, konon penginapan itu mahalnya minta
        ampun,  untung  kami  disponsori,  kalau  pergi  sendiri  lebih  baik  tidur  di  tenda,  dan
        seterusnya.

          Akan tetapi, setelah kami disejukkan oleh angin AC di kamar, setelah kaki kami yang
        baru trekking dua puluhan kilometer kembali diluruskan di atas tempat tidur yang tidak
        tergoyang oleh air sungai, setelah tubuh kami dibasuh air hangat yang jernih dan bukan air
        dingin  keruh  hasil  tampungan  dari  Sekonyer,  semua  kasak-kusuk  tadi  surut  dengan

        sendirinya.

                                                                                                               3.

        Kamp ketiga yang kami kunjungi pada hari ketiga adalah kamp terpopuler. Kamp dengan
        jumlah orangutan terbesar. Lokasinya paling jauh di dalam. Kami baru tiba di sini setelah
        makan siang.

          Diresmikan pada awal ‘70-an, kamp inilah yang menjadi garis depan sekaligus pionir
        penyelamatan  orangutan  Kalimantan.  Karena  fungsinya  yang  merangkap  sebagai  pusat
        edukasi orangutan, kamp ini memiliki rumah panggung dengan fasilitas perpustakaan dan

        pemutaran video. Lalu lintas staf di sini juga terlihat paling ramai dibandingkan dua kamp
        sebelumnya. Seperti biasa, momen yang dinanti adalah pemberian makan.

          Kegiatan kami memang berulang. Tapi, di kamp terakhir ini aku merasakan perbedaan.
        Komunitas di sini begitu hidup. Tidak cuma turis yang datang sejenak dan pergi lagi, di
        sini  ada  relawan,  mahasiswa,  peneliti  dari  berbagai  belahan  dunia.  Aku  merasa  sedang
        hidup di perkampungan internasional mungil, antarbangsa. Antarspesies.


          Jika di kamp sebelumnya yang dinanti-nanti adalah Marlon, di sini lampu sorot jatuh
        pada  seorang  perempuan  berusia  50  tahunan  yang  dipanggil  dengan  sebutan  Ibu  Inga.
        Orang-orang asing yang kemari lebih sering memanggilnya “Dr. D”.

          Inga Dominykas adalah seorang perempuan asli Lithuania berkewarganegaraan Kanada
        yang mendirikan kamp ini. Tidak ada manusia di planet ini yang memahami orangutan
        seperti Inga Dominykas.
   94   95   96   97   98   99   100   101   102   103   104