Page 104 - Supernova 4, Partikel
P. 104

yang berbeda. Ada yang menatap lembut, ada yang memancarkan agresi samar, ada yang
        dingin, ada yang jenaka. Apa pun kesan yang mereka tinggalkan, tatapan orangutan selalu
        menembus hingga ke hati. Mereka menatap tanpa agenda tersembunyi.

          Ibu  Inga  membuka  kandang.  Aku  berdiri  di  belakangnya.  Tampak  siluet  dua  anak
        orangutan yang rapat menempel di pojok.

          Tanpa  ragu,  Ibu  Inga  menjulurkan  tangan.  Memanggil  mereka  keluar.  Butuh  waktu

        untuk  orangutan  membiasakan  diri  pada  manusia,  apalagi  mereka  yang  sudah  lama  di
        alam  bebas.  Koneksi  itu  tak  bisa  diciptakan  instan.  Namun,  setelah  puluhan  tahun
        berinteraksi  dekat  dengan  orangutan,  Ibu  Inga  telah  menyimpan  ketenangan  dan
        keyakinan  sekualitas  pawang.  Aku  banyak  mendengar  bagaimana  Ibu  Inga  mampu
        menaklukkan orangutan dengan karakter tersulit sekalipun.

          Tak  lama  setelah  lengan  Ibu  Inga  menjulur,  setelah  matanya  beradu  langsung  dengan
        kedua anak orangutan itu, si kakak tahu-tahu menyambut uluran tangannya. Sekedip mata,

        ia  menghambur  keluar  dari  kandang,  menempel  di  bahu  Ibu  Inga.  Ia  disambut  dengan
        pelukan dan elusan. Seketika itu juga, Ibu Inga menjadi pengganti ibunya.

          Aku tak cukup tahu banyak tentang orangutan saat itu. Aku tak tahu bahwa si adik akan
        mencari hal yang sama. Pengganti ibunya. Tempat ia bisa bergantung dan menempelkan
        tubuhnya  secara  konstan,  sebagaimana  yang  secara  alami  ia  lakukan  pada  induknya.
        Melihat kakaknya sudah memiliki tempat pegangan, si adik tergerak untuk keluar. Aku
        adalah orang terdekat dari posisi Ibu Inga berdiri. Matanya yang mencari mendapatkan

        mataku. Tak ada yang lebih lembut dan rapuh daripada tatapan bayi orangutan. Tanganku
        otomatis merentang.

          Dengan lengan-lengan mungilnya, si adik melompat meraih tanganku, mendaki hingga
        ke ketiak, dan ia bergantung erat di sana. Aku bengong mendapatkan makhluk berbulu
        oranye tahu-tahu menempel di tubuhku.

          Semua  orang  langsung  menatap  kami  berdua.  Sama  melongonya.  Kudengar  Ibu  Inga
        menghela napas panjang.

          “Ayo, kita bawa masuk ke rumah. Kita kasih makan,” ucapnya sambil berjalan.

          Pembicaraan tentang kepulanganku berhenti, dan tak pernah dibahas lagi.


                                                                                                               5.

        Hari itu juga mereka berdua diberi nama. Si kakak, berkelamin jantan, diberi nama dari
        nama petugas konservasi yang menyelamatkannya: Sulaiman. Si adik, berkelamin betina,
        diberi nama Sarah.

          Tak ada yang tahu pasti dari mana nama Sarah berasal. Ibu Inga yang mencetuskan. Aku
        merasa  nama  itu  ada  hubungannya  denganku.  Tidak  banyak  lidah  lokal  yang  bisa
        menyebutkan  namaku  dengan  “z”  sempurna.  Banyak  yang  terpeleset  menjadi  “s”.  Di
        mana-mana,  termasuk  di  sini,  aku  lebih  sering  dipanggil  Sarah  ketimbang  Zarah.  Aku

        curiga, Ibu Inga sengaja menguji mentalku.

          Bayi  orangutan  lebih  kecil  ukuran  lahirnya  ketimbang  bayi  manusia.  Tapi,  ia  lebih
   99   100   101   102   103   104   105   106   107   108   109