Page 105 - Supernova 4, Partikel
P. 105

independen ketimbang bayi manusia yang sejatinya masih embrio saat dilahirkan. Dengan
        kekuatan lengannya, Sarah mampu bergantung padaku tanpa harus aku menggendongnya.
        Ia mampu mengunyah pisang tanpa perlu kuhaluskan, menyuapi dirinya sendiri dengan
        gumpalan nasi. Ia pun memegang botol susunya tanpa dibantu.

          Akan tetapi, Sarah melekat di tubuhku hampir dua puluh empat jam. Untungnya, staf di
        sini  memiliki  stok  popok  yang  mereka  pasangkan  ke  bayi  orangutan  yang  masih

        dependen.  Tanpa  bantuan  popok,  bajuku  yang  hanya  beberapa  helai  bisa  habis  dalam
        sehari terkena kencing Sarah.

          Tidak  banyak  lagi  kesempatan  yang  kumiliki  untuk  memotret.  Sarah  selalu  ingin
        merebut dan memainkan kameraku. Meski mungil, kekuatan dan kegesitannya tidak bisa
        diremehkan.  Aku  terpaksa  lebih  banyak  menyimpan  kameraku  di  tas.  Tinggal  di  hutan
        belantara begini, aku tak berani ambil risiko.

          Kami  pergi  berdua  ke  mana-mana  seperti  kembar  siam.  Saat  aku  mandi,  Sarah  ikut

        kumandikan.  Saat  aku  makan,  Sarah  ikut  makan  dari  piringku.  Ia  bahkan  menemaniku
        buang air. Satu-satunya momen Sarah lepas dari tubuhku hanya jika aku ganti baju. Itu
        pun  lewat  hasil  membujuk,  meronta,  memaksa,  dan  berbagai  gerak  akrobatik.  Sebelum
        bertemu Sarah, tak pernah kubayangkan harus berjuang demi bisa berganti kaus.

          Sarah kadang melihatku sebagai ibu secara harfiah. Tak jarang, ia berusaha mengangkat
        kausku,  mencoba  menyusu  dari  dadaku.  Berkali-kali  kutepis  tangannya,  tapi  ia  tidak
        kapok untuk mencoba. Sebagai ganti, Sarah mengisap jempolku.

          Bagai pecandu yang mendapatkan candunya, begitu mulutnya membungkus jempolku,

        Sarah tiba di dunia lain. Ia langsung relaks, damai, santai. Sarah bisa mengisap 45 menit
        tanpa henti.

          Melihat ketergantungan Sarah pada jempolku, aku berusaha mengendalikannya dengan
        cara menjadwal. Kuputuskan untuk memberinya ritual isap jempol tiga kali sehari; pagi,
        sore,  dan  malam  menjelang  tidur.  Rencana  pendisiplinan  itu  gagal  total.  Penolakanku
        memberikan jempol saat ia meminta malah membuat Sarah mengamuk dan uring-uringan.
        Akhirnya, aku menyerah. Kapan pun Sarah meminta, aku merelakan jempolku diisapnya.


          Ibu Maryam, salah seorang staf pengurus orangutan, tergeli-geli melihat kami berdua.

          “Yang namanya bayi netek itu nggak ada waktunya. Kapan pun dia mau, ibunya kasih.
        Kalau diwaktu, itu namanya bayi robot,” kelakarnya. Tapi, aku sadar ia serius.

          Walau berpengalaman mengasuh Hara, aku belum pernah menjadi orangtua dalam arti
        sesungguhnya.  Dalam  beberapa  hari  saja  kebersamaan  kami,  Sarah  telah  mendorongku
        paksa  memasuki  dunia  ibu.  Aku  mulai  mengamati  ibu-ibu  berbayi  di  sekitar  kamp.
        Menyimak interaksi antarmereka. Mempelajari. Kadang kami, para ibu, duduk bersama.
        Mereka menyusui bayinya dalam belitan kain sarung. Sementara itu, di atas perutku, bayi

        berbulu  oranye  membelit,  sebelah  tangannya  mendekap  pinggangku,  sebelahnya  lagi
        menggenggam tanganku dengan jempol yang menghilang dalam mulutnya.

          Ketika  ibu  lain  mengeluhkan  putingnya  yang  lecet,  aku  mengeluhkan  jempolku  yang
        lunglai  dan  luka.  Dan,  seperti  ibu  lainnya  yang  berjuang  untuk  terus  menyusui  meski
   100   101   102   103   104   105   106   107   108   109   110