Page 106 - Supernova 4, Partikel
P. 106

menahan perih, aku membiarkan Sarah mengisap jempolku yang terluka meski dalam hati
        aku menjerit-jerit kesakitan.

          Sarah  akan  mengamuk  jika  aku  mendekati  orangutan  lain.  Kalau  kami  terpisah  dua
        meter saja,  ia  langsung  panik  dan  buru-buru  mengejarku.  Awalnya,  aku  melihat  Sarah
        sebagai  orangutan  kecil  yang  posesif.  Lama-kelamaan,  pandanganku  berubah.  Sarah
        hanya  berlaku  sebagaimana  bayi  mamalia  yang  terpukul  akibat  kehilangan  sosok  ibu.

        Dengan  kalap,  ia  bergantung  kepada  siapa  pun  dan  apa  pun  pengganti  yang  tersedia
        baginya. Dalam dimensi Sarah, pengganti itu adalah aku.

          Selain  mempersembahkan  jempol,  strategi  penyelamatku  yang  lain  adalah  bermain
        bunyi.  Sarah  senang  sekali  kalau  melihat  bibirku  dimonyong-monyongkan.  Dengan
        kemampuan mimik yang alamiah, Sarah berusaha meniru ekspresiku. Kami bisa bermain
        lama  hanya  mengandalkan  mulut  monyong.  Aku  menamainya  permainan  “chomo-
        chomo”.


          Melihatku  mengucapkan  “Chomo-chomo-chomo-chomo….”  sampai  esok  lusa  pun
        Sarah tidak bakal bosan. Aku cuma kuat setengah jam sampai sejam, tergantung kekuatan
        otot mukaku hari itu, tapi lumayan untuk memberi istirahat sejenak bagi jempol.

          Seiring dengan waktu dan kian lekatnya Sarah, aku mulai melebur dengan kamp, dengan
        hutan, dengan Tanjung Puting. Tidak ada yang mengusikku. Semua petugas dan staf di
        sini  menjadi  teman.  Kami  mengobrol,  makan  bersama,  tidur  bersebelahan,  sama-sama
        digelayuti orangutan.

          Jumlah orang seputar kamp tidak banyak. Kualitas interaksi satu sama lain terlihat jelas,

        transparan. Tidak perlu ekstra kepekaan untuk melihat Ibu Inga-lah yang tetap menjaga
        jaraknya denganku.

          Ujianku belum selesai.

                                                                                                               6.

        Sejak tragedi yang menimpa keluarga kecilnya, Sarah selalu panik saat memasuki hutan.
        Para  staf  mengingatkanku  untuk  terus  membawanya  berjalan  di  hutan.  Pembiasaan
        kontinu  sedikit-sedikit  akan  membawa  kembali  kenyamanan  dan  rasa  percayanya  pada
        rumahnya yang dulu.


          Dari yang tak mau sama sekali, lambat laun, Sarah mulai tenang. Kami bisa berjalan
        lebih  dalam  memasuki  hutan.  Dalam  setiap  kesempatan  berharga  itulah,  aku
        berkesempatan mengenal lingkungan baruku. Hutan lindung dengan luas 415.000 hektare
        lebih.

          Dulu, aku mengira, semua hutan akan berwujud seperti amplifikasi Bukit Jambul skala
        besar. Apalagi Kalimantan. Paru-paru dunia. Dulu, gambaran dalam benakku adalah hutan
        dengan pohon-pohon gigantis yang tak kelihatan lagi ujungnya, tirai akar gantung yang

        terburai bagai tiang-tiang pancang, predator-predator besar mengintai dari balik dedaunan,
        anakonda segemuk paha membelit dahan, burung tukan paruh pelangi melompat-lompat
        dari ranting ke ranting. Fantasi itu terjungkir begitu aku tiba di sini.

          Hutan di Tanjung Puting termasuk hutan kerangas yang memiliki selapis tipis saja tanah
   101   102   103   104   105   106   107   108   109   110   111