Page 107 - Supernova 4, Partikel
P. 107

puncak yang subur. Otomatis, kandungan haranya sedikit, tanahnya cenderung asid, dan
        sangat rentan kerusakan. Efeknya langsung terlihat. Pepohonan di sini tidak terlalu tinggi
        dan tidak terlalu besar. Di Bukit Jambul, pohon-pohonnya lebih tinggi, gagah tertancap
        dengan diameter besar-besar. Hijau di Bukit Jambul pun lebih kaya gradasi, kaya bentuk,
        kaya ragam. Sebaliknya, hijau di Tanjung Puting terasa monoton dan unison.

          Demikian kesan pertama yang tertangkap mataku yang belum terlatih. Lama-kelamaan

        aku menyadari, aku salah. Hutan ini, dengan cara yang halus dan malu-malu, menyimpan
        keindahan yang mencengangkan. Terungkap bagi mereka yang beruntung.

          Ia bagaikan gadis lugu yang sekilas pintas tampak polos dan tak menarik, yang tahu-tahu
        menyorotkan kecantikan tak terduga saat sebuah senyum tertoreh tak sengaja, saat cahaya
        menerpa  sudut-sudut  tertentu  pada  wajahnya.  Ketika  matahari  dan  cuaca  bersekongkol
        dengan  tepat,  hutan  Tanjung  Puting  tiba-tiba  bertransformasi.  Menunjukkan  tekstur,
        keberagaman, keindahan tiga dimensi yang bisa dilihat dan diraba.


          Momen  semacam  itu  berlangsung  singkat.  Ketika  persekongkolan  tersebut  lepas,
        keindahan  magis  tadi  pun  lenyap.  Hutan  ini  kembali  hambar.  Kecantikannya  menjadi
        kenangan, bertumbuh menjadi harapan, pertanyaan: akankah ia mengungkapkannya lagi?

          Karakter hutan hujan tropis yang dulu juga tidak kuperhitungkan adalah kelembapannya
        yang  luar  biasa.  Udara  di  sini  menekan  kita  seperti  panci  kukus,  menggayuti  semua
        penghuninya dengan beban yang membuat kita berkeringat meski sedang tak bergerak.

          Tinggal  di  Bogor  yang  lembap  tidak  membuatku  dengan  mudah  beradaptasi  dengan
        kelembapan  di  sini.  Adaptasi  kelembapan  juga  menjadi  ujian  terberat  bagi  turis-turis

        negara  iklim  kering.  Aku  melihat  bagaimana  turis-turis  bule  dibuat  lemas  tak  berkutik.
        Dengan  baju  basah  kuyup,  mereka  hanya  bisa  bersandar.  Lunglai  bercucuran  keringat.
        Kelelahan oleh mantel tak terlihat yang dibebankan udara.

          Di  hutan  ini,  tak  kutemukan  hewan-hewan  besar  yang  kubayangkan  sebagai  raja-raja
        hutan,  sebagaimana  digambarkan  di  buku-buku  fauna.  Selain  orangutan  yang  memang
        kera arboreal terbesar, tak kutemukan lagi hewan berkategori besar lain. Orang-orang di
        sini  bilang,  malam  hari  masih  berkeliaran  macan  dahan,  kucing  hutan,  dan  binturong.

        Hutan  Kalimantan  pun  memiliki  beruang  madu.  Namun,  semua  binatang  itu  tergolong
        mungil  jika  disandingkan  dengan  saudara-saudaranya  di  Afrika  atau  Amerika.  Seakan
        hutan hujan tropis memiliki mantra untuk mengerdilkan ukuran.

          Di hutan hujan tropis ini, yang kecillah yang berkuasa. Serangga.

          Sedikit kudengar orang mengeluhkan babi hutan atau ular piton. Tarantula kerap muncul
        dan  membuat  ngeri,  kobra  sesekali  ditemukan  di  dapur  dan  dekat  kamar  mandi,  tapi

        dengan  cepat  mereka  menghilang  dari  pandangan.  Komplain  paling  serius  justru
        dilayangkan pada semut api, nyamuk, agas, kutu, dan lintah.

          Agas  meninggalkan  rasa  gatal  yang  berkali  lipat  daripada  nyamuk  biasa.  Bentolnya
        dengan  keras  kepala  bertahan  seperti  penyakit  kulit.  Sejenis  kutu-kutu  kecil  yang
        bentuknya  serupa  bubuk  cabai  bisa  menghunjamkan  dirinya  ke  dalam  lipatan  badan,
        mengisap darah, dan meninggalkan rasa sakit yang mirip disetrum listrik. Koloni semut
   102   103   104   105   106   107   108   109   110   111   112