Page 19 - Supernova 4, Partikel
P. 19

Ayah menggeleng.

          “Pohon sequoia?”

          “Fungi.  Hamparan  miselium  Armillaria  ostoyae  bisa  menutup  hutan.  Mengecoh  kita
        yang menyangka mereka bukan satu organisme tunggal.”

          “Di mana ada hamparan seperti itu, Yah?” tanyaku bersemangat. Aku membayangkan
        permadani raksasa berwarna putih kapas menutupi lantai hutan.

          “Para  peneliti  baru  saja  menemukannya  di  Amerika,  Zarah.  Enam  ratus  hektare

        Armillaria ostoyae yang merupakan satu organisme tunggal. Dan Ayah yakin, suatu saat
        akan ditemukan lagi yang lebih besar daripada itu.”

          “Ayah tahu dari mana?”

          “Fungi  menceritakannya  kepada  Ayah,”  cetusnya  bangga.  “Nah,  coba  kamu  pikir.
        Bagaimana mungkin organisme dengan ketebalan satu sel seperti miselium bisa bertahan
        hidup di atas permukaan tanah seluas itu, sementara ia dikelilingi miliaran makhluk lain
        yang setiap saat membutuhkan makanan?”

          Kepalaku menggeleng.

          Terhanyut oleh kekagumannya sendiri, Ayah sampai menjambak rambut di sekitar kedua
        pelipisnya.  “Karena  mereka  makhluk  cerdas,  Zarah!  Inteligensi  mereka  super!  Bahkan,

        melampaui kita!” serunya. “Fungi konstan berkomunikasi dengan ekosistemnya. Mereka
        itu  jejaring  yang  berkomunikasi  dengan  bahasa  biomolekuler.  Mereka  menyimpan  data
        yang tak terbayangkan kayanya. Memori kita terputus ketika kita mati. Tapi, fungi tidak.
        Suksesi  data  sejak  mereka  kali  pertama  eksis  miliaran  tahun  lalu  hingga  kini  tetap
        tersimpan.  Dan,  kalau  saja  kita  bisa  mengaksesnya….”  Ayah  meraupkan  tangannya

        menutupi muka. Fungi kerap membuatnya hilang kata-kata.

          Menurut  Ayah,  fungi  adalah  nenek  moyang  spesies  manusia.  Sama-sama  menghirup
        oksigen dan mengeluarkan karbondioksida, sama-sama berinteligensi tinggi, sama-sama
        makhluk  jejaring.  Karena  kemiripan  yang  dekat  itulah,  fungi  dan  manusia  memiliki
        hubungan yang unik. “Semua antibiotik terbaik yang pernah diciptakan manusia dibuat
        dari  fungi.  Tapi,  kita  tidak  bisa  membuat  antifungal  dengan  sama  baik  karena  efeknya
        akan mencelakai kita sendiri,” jelasnya.

          Fungi adalah makhluk berkesadaran yang tahu dan bisa merasakan keberadaan makhluk

        lain. Menurut Ayah, fungi bisa bereaksi terhadap suara, terhadap tekanan, bahkan terhadap
        niat. Ia bilang, tak jarang fungi “menemuinya”. Saat ia membutuhkan fungi tertentu, satu-
        dua hari kemudian fungi itu tahu-tahu muncul di tempat-tempat tak terduga, di dekat VW
        Kodok-nya terparkir, di tembok laboratorium kampus, di rumah Abah di Batu Luhur, dan
        sebagainya. Begitu percayanya Ayah pada kecerdasan fungi.

          Dalam kehidupan Ayah, jejak fungi tercetak jelas. Segala yang ia sentuh pasti memiliki
        kaitan dengan fungi. Pepohonan di Batu Luhur, misalnya, selalu lebih besar, lebih rimbun,

        dan  lebih  tinggi.  Tanaman  kami  yang  subur-subur  itu  bahkan  sudah  sohor  sebagai  ciri
        mencolok  yang  membedakan  Batu  Luhur  dengan  kampung  lain.  Itu  akibat  Ayah
        menginstruksikan  kepada  warga  kampung  untuk  “menginfeksi”  tanaman-tanaman  di
   14   15   16   17   18   19   20   21   22   23   24