Page 191 - Supernova 4, Partikel
P. 191

“You  just  need  to  knock  on  the  right  door.  Saya  cuma  beruntung.”  Paul  mengangkat
        bahu.

          Kepalaku  menggeleng.  “No  way.  Saya  tahu  persis,  menelusuri  informasi  seperti  itu
        susahnya setengah mati. Sudah berapa lama kamu ikut mencari?”

          “It’s not important,” sahut Paul cepat, “yang penting adalah kertas di tanganmu.”

          “Thank you, Paul,” bisikku. Tak tahu harus berkata apa lagi.

          “Saya tahu kamu sudah nggak mau di London lebih lama. Jadi, pergilah besok. Sekarang

        sudah terlalu sore untuk mengejar bus ke sana.”

          Aku merasa yang dimaksud Paul sesungguhnya adalah menyiapkan hati. Glastonbury
        hanya beberapa jam dari London. Aku bisa berangkat saat itu juga kalau mau. Namun,
        berita ini terlalu besar untuk disambut dengan ketergesaan. Terutama bagi seseorang yang
        sudah dalam pelarian begitu lama.

          Ini adalah remah pertamaku untuk menemukan kembali “rumah”. Ayah.

                                                                                                               2.

        Seperti  yang  sudah  kami  duga,  aku  tak  bisa  tidur  semalaman.  Bolak-balik  gelisah  di
        tempat tidur hingga pagi datang.


          Kucek lagi kelengkapan barangku yang padahal hanya satu tas itu. Rumah Zach sudah
        kurapikan hingga sudut yang tersembunyi. Dan, aku masih gelisah mencari apa yang bisa
        kulakukan hingga jadwal busku tiba.

          “No coffee for you, mate,” Zach menyorongkan secangkir teh.

          “Chamomile? Really?”

          “Kamu nggak tidur semalaman, Zarah. Saya tahu itu. Kalau kamu minum kopi pagi ini,
        kamu nggak bakalan tidur di bus nanti.”

          “Saya memang nggak berencana tidur!” protesku.

          “You will need some rest,” sahut Zach kalem.

          Tahu-tahu, terdengar bel berbunyi dan pintu diketuk bersamaan. “Paul?” Zach terkejut.
        Namun,  tak  ada  lagi  tamunya  yang  mengetuk  dan  mengebel  secara  bersamaan  seperti

        Paul.

          Ternyata, benar. Paul datang dan langsung bergabung sarapan bersama kami.

          “Saya akan mengantarmu ke terminal,” katanya pendek sambil melahap muffin.

          “Kupikir kamu mau melepasku pergi ke Pasifik,” sindir Zach. “I’ll be floating on the sea
        of rubbish for days, you know.”

          “Kamu nggak perlu mengantar saya, Paul,” ucapku.

          Paul  tidak  menjawab,  hanya  menyumpal  mulutnya  dengan  gumpalan  English  Muffin
        yang kedua.
   186   187   188   189   190   191   192   193   194   195   196