Page 188 - Supernova 4, Partikel
P. 188

tak punya ambisi karier apa pun. Hidup tanpa rumah permanen, hidup dari satu ransel,
        telah kujalani lama sebelum aku bergabung dalam tim Paul Daly.

          Dalam dua tahun terakhir, yang terjadi hanyalah perpanjangan dari serial pelarian yang
        kumulai  dulu  di  Batu  Luhur.  Ketika  pola  hidup  yang  sama  kujalani  sedemikian  lama,
        lambat laun hidup dalam pelarian menjadi kewajaran, kurangkul menjadi identitas. Aku
        bisa  paham  mengapa  Paul,  dengan  cara-caranya,  berusaha  membuatku  berhenti.  Di

        matanya,  menjadi  buron  bukanlah  hidup  yang  normal.  Sayangnya,  kami  tak  bisa
        membekuk pihak yang mengejarku. Aku telah menciptakannya. Dalam batinku sendiri.

          Sejak hari di Kafe Emporio, aku nyaris tak berhenti. Namaku selalu ada di puncak daftar
        Paul. Terkadang aku pergi tanpa bertanya lagi. Aku tak peduli akan berakhir di mana. Ke
        mana  pun  selama  aku  bisa  cepat  meninggalkan  London,  dan  selama  negara  tujuannya
        bukan Indonesia.

          Di London, aku kembali pindah ke rumah Zach. Tidak pernah lebih dari seminggu aku

        menetap di kota itu. Seketika ada kegerahan, keengganan, nyaris kemuakan, ketika aku
        harus melihat sudut-sudut kota yang dulu sering kulalui.

          Segala  upaya  kontak,  baik  dari  Koso  maupun  Storm,  kublok  rapat-rapat.  Mentok
        menghubungi  lewat  ponsel,  surel,  ataupun  titipan  pesan  lewat  teman-teman,  keduanya
        pernah  nekat  mencoba  menghampiriku  langsung.  Bagaikan  hantu  yang  berusaha
        berkomunikasi  dengan  manusia  tumpul,  tak  kugubris  mereka  sama  sekali.  Bagiku,
        keduanya tak ada. Akhirnya, mereka berhenti berusaha.

          Segala jurang perbedaan yang dulu membentang antara duniaku dan dunia Koso, antara

        industri  fotografiku  dan  industri  fotografi  Storm,  kini  kusyukuri  habis-habisan.  Karena
        jurang itu, kecil kemungkinan kami bertemu dan beririsan.

          Alam bebas tak lagi sekadar tempatku bekerja, tetapi juga suaka. Tempatku berlindung
        dari  figur-figur  seperti  Brutus,  Iago,  Macbeth,  Yudas  Iskariot.  Figur  yang  menurutku
        hanya  akan  muncul  jika  sudah  terlampau  lama  kita  berbaur  dengan  manusia-manusia
        modern  yang  politis,  beragenda,  dan  berdrama.  Aku  tak  sanggup  lagi  berjudi  dengan
        hidup. Kepingku habis. Daduku beku.


          Aku rindu Tanjung Puting. Aku rindu Ibu Inga. Aku mendamba bertemu Sarah dewasa.
        Namun, aku tahu tujuan sejati Paul mengirimku ke Indonesia adalah agar aku kembali ke
        Tanah Jawa, menuntaskan apa pun itu yang mengawali pelarian panjang ini. Paul boleh
        bermimpi dan berusaha, tapi ia seharusnya lebih tahu, untuk yang satu ini aku tidak bisa
        dipaksa.

          Apa  pun  yang  dikatakan  Paul  hari  ini,  kami  semua  sudah  bisa  menyimpulkan  hasil

        akhirnya. ZRH tidak jadi ke Kalimantan.
   183   184   185   186   187   188   189   190   191   192   193