Page 190 - Supernova 4, Partikel
P. 190

menjadi menarik.

          Siapa pun yang melihat wujud Pacific Trash Vortex akan merasa Bumi ini tidak punya
        masa depan, demikian opini yang beredar. Mendengarnya, aku tersenyum tawar. Sudah
        lama aku merasa tempat ini tak punya lagi masa depan. Selama manusia masih menjadi
        penguasa, planet ini akan disedot hingga tetes air terakhir, hingga molekul oksigen habis
        tak bersisa di udara. Kami adalah virus. Virus akan membunuh hingga inangnya mati dan

        ia ikut binasa.

          “Anggaran penanggulangan sampah di Pasifik kalah jauh dengan anggaran film terbaru
        James Bond,” Zach lalu berkelakar. Dalam hati, kami sadar itu masalah serius. Menuju
        kehancuran,  manusia  modern  bahu-membahu.  Menghabiskan  dana  dan  tenaga  untuk
        jutaan  hal  tak  penting  dan  mengesampingkan  urusan  hidup  dan  mati  Bumi  ini  sembari
        berteriak tak cukup dana.

          Pintu apartemen Zach diketuk berbarengan dengan suara bel. Tak lama, Paul melangkah

        masuk. Mukanya tegang.

          “Hiya, Missy,” sapanya pendek.

          “I’m ready for my garbage,” sahutku.

          “Kamu nggak berangkat.”

          “Apa?”  Aku  langsung  bangkit  berdiri.  Sudah  hampir  seminggu  aku  di  London.  Paul
        tahu, aku bakal kesemutan jika sampai sehari lagi dibiarkan di sini.

          “Zach yang berangkat.”

          “Apa?” Zach ikutan berdiri.

          “Saya  punya  kabar  untukmu.  This  is  where  you  will  be  going.”  Paul  menyerahkan
        selembar kertas kepadaku.

          Aku membukanya. Sebuah nama yang tak kukenal, sederet alamat. Glastonbury. Inggris.


          “Glastonbury? Ada proyek apa di Glastonbury?” tanyaku bingung.
          “Selama  ini  saya  minta  tolong  beberapa  orang  yang  punya  koneksi  ke  Nikon  dan

        jaringan kolektor. Your FM2/T. Finally, we have a name. Dialah pemilik asli kamera yang
        di tanganmu.”

          Lututku langsung lemas.

          “And I have to go to the Pacific?” Terdengar Zach berceletuk. Paul langsung mendelik
        ke arahnya.

          “Oke, oke. Zarah punya misi yang lebih penting,” Zach cepat-cepat menambahkan.

          Aku terduduk di sofa. Bengong. Tahunan kutunggu kabar ini. Sebuah petunjuk. Seremah
        roti. Kubaca kertas itu sekali lagi.

          “Saya  pernah  coba  mencari,  lama  sekali,  and  I  got  nothing…  b–bagaimana  kamu

        bisa…?” Dadaku sesak.
   185   186   187   188   189   190   191   192   193   194   195